Selasa, 15 Februari 2011

Mendidik Dengan Hati


Oleh : AR Ar-rasyid


Menjadi guru bukanlah sekadar sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Ia adalah pribadi “sempurna” yang menjadi suri tauladan bagi orang-orang di sekitarnya, terutama murid-muridnya.  Seorang guru juga menjadi barometer utama dalam keberhasilan suatu program pendidikan. Maka menjadi guru adalah sebuah profesi ideal bagi peningkatan sumber daya manusia dalam era pembangunan.
Namun menjadi seorang guru ternyata tidak pernah terpikirkan oleh saya sejak awal masuk sekolah. Cita-cita saya waktu kecil seperti cita-cita anak-anak yang lainnya adalah menjadi seorang dokter, atau dalam kesempatan yang lain dengan cita-cita yang lebih umum menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang guru. Saya masih ingat sekali ketika seorang guru bertanya kepada teman-teman sekelas dulu tentang cita-cita mereka, tidak ada satu orangpun yang bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Profesi guru dianggap tidak menjanjikan untuk kesejahteraan di masa depan. Menjadi guru tidak bisa meningkatkan strata ekonomi seseorang. Intinya menjadi guru tidak bisa menjadi kaya. Maka tidak ada satu temanpun yang bercita-cita menjadi seorang guru.
Namun setelah seperempat abad berselang saat ini saya telah menjadi seorang guru, menjadi guru profesional (bersertifikat guru profesional) dengan segala kesibukannya. Sebuah profesi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Lebih dari sepuluh tahun menjadi guru ternyata banyak sekali perubahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar. Jika dulu pendidikan bertujuan menjadikan seorang anak menjadi manusia yang bertakwa, kini tujuan itu telah mengalami distorsi arti.
Menjadi guru saat ini berbeda jauh dengan sewaktu saya masih sekolah dulu. Semuanya telah berubah, hanya satu yang tidak berubah image bahwa sekolah adalah tempat untuk menjadikan anak menjadi pintar. Image ini masih tetap ada hingga saat ini, “Kalau ingin Pintar Belajar”. Sebenarnya pemahaman ini tidaklah salah seratus persen salah, karena sekolah memang tempat belajar mengajar. Yang menjadi persoalan adalah bahwa sekolah selama ini hanya mengajarkan kepintaran dalam masalah eksak saja. Kepintaran seorang anak hanya diukur ketinggian intelektualitasnya, sehingga para orang tua berlomba-lomba untuk memintarkan anaknya.
Sayang, lagi-lagi sekolah hanya mengajarkan kepintaran intelektual. Semua kepintaran dinilai dengan angka. Bahkan pelajaran agamapun dinilai dengan angka pula. Bagaimana jadinya? Pendidikan kita lebih mengarahkan siswa untuk menjadi pribadi yang hanya pintar secara intelektual, sementara pada bidang moral dan managemen diri mereka sangat ketinggalan. Maksud saya adalah anak-anak kita setiap hari dicekoki oleh ilmu-ilmu yang hanya membuat pintar otak, sementara hati dan jiwanya dibiarkan miskin dan kekurangan asupan.       
Sebagai seorang guru profesioanl saya sangat memperhatikan hal-hal semacam ini, tidak hanya memberatkan anak, namun juga secara tidak langsung mendidik mereka untuk selalu mengandalkan logika dan pikiran. Sampai masalah-masalah keimananpun menggunakan logika dan matematika. Sangat disayangkan anak-anak kita selalu ditekan dengan berbagai pelajaran yang harus mereka kuasai hanya dengan logika saja. Sedangkan jiwa dan hati mereka jarang dididik. Maka yang terjadilah adalah anak-anak yang hanya pintar secara logika namun miskin moral. Mereka tahu cara memutuskan suatu persoalan pelik tapi tidak bisa menyelesaikan masalah sederhana yang berkaitan dengan keimanan.
Sehingga kita dapati ada anak yang tidak naik kelas kemudian stress, atau tidak lulus ujian bunuh diri. Ini semua terjadi karena kurangnya pendidikan hati bagi anak-anak kita. Mereka terlalu menggunakan logika yang berakhir dengan segala sesuatu diputuskan dengannya.
Sebagai seorang guru saya merasa bahwa pendidikan kita telah menyimpang dari “jalan yang lurus” sebuah jalan yang mengantarkan anak-anak kepada kepandaian moral dan spiritual. Kepandaian sendiri tidak hanya diukur dengan nilai, namun bagaimana praktek keseharian mereka. Pendidikan dengan hati, itulah salah satu model pendidikan yang harus dikembangkan oleh setiap guru. Dalam proses belajar mengajar jangan sampai anak dibebani dengan begitu banyak pelajaran yang hanya mengasah otak mereka, sementara hati, kepekaan dan moral mereka tidak pernah diperhatikan. Wallahu a'lam.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...