Rabu, 26 Agustus 2020

Membaca Hingga di Surga...

Oleh: Abdurrahman Misno BP



Membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dalam perspektif Islam membaca menjadi bernilai ibadah apabila bacaannya adalah Kalamullah, sunnah Nabawiyah serta berbagai bacaan yang memberikan kemashlahatan bagi kehidupannya di dunia dan akhirat.

Membaca Al-Qur’an adalah salah satu dari ibadah yang sangat ditekankan dalam Islam, Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” QS. Fathir: 29-30. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran”. Maksud dari ayat ini adalah bahwa orang-orang yang suka membaca Al-Qur’an maka mereka akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Adapun hadits yang menunjukan anjuran untuk membaca Al-Qur’an adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه

Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” HR. Muslim.

Riwayat yang lainnya adalah dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ : الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ؛ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.”. HR. Muslim.

Merujuk kepada dua riwayat ini maka menunjukan perintah Allah Ta’ala bagi setiap muslim untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, karena hal tersebut merupakan ibadah kepadaNya.

Membaca Al-Qur’an menjadi hal utama yang dilakukan oleh setiap muslim dalam aktifitas membaca, kemudian dilanjutkan dengan membaca hadits-hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Kemudian setelah itu membaca buku-buku para ulama yang menjelaskan keduanya, serta dilanjutkan dengan membaca buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Membahas Al-Qur’an tentu saja bukan hanya mampu mengeja huruf demi huruf dan kata demi kata serta merangkaianya dalam sebuah kalimat. Ia adalah proses memaknai setiap kalimat yang ada sehingga dapat dipahami. Setelah dipahami berikutnya adalah diamalkan, dan langkah terakhir adalah menyampaikannya kepada orang lain (dakwah). Inilah sejatinya tujuan dari membaca Al-Qur’an, proses menghafal sendiri hakikatnya adalah pembacaan yang dilakukan secara berulang-ulang secara terus-menerus sehingga mampu membaca tanpa melihat huruf-hurufnya.

Sebagaimana membaca maka menghafal Al-Qur’an sejatinya bukan hanya membaca di luar mushaf, namun lebih dari itu agar ia dapat memahami maknanya, mengamalka serta mendakwahkannya. Sehingga menghafal Al-Qur’an baru langkah awal untuk menjadi shahibul Qur’an.

Perintah membaca AL-Qur’an terjadi tidak hanya di dunia, namun ia juga berlaku di akhriat sana. Sebuah riwayat dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau bersabda:

 يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibbân.

Imam al-Khathabi rahimahullah dalam Ma’âlim as-Sunan (2/136) menjelaskan: Ada dalam atsar bahwa jumlah ayat al-Qur`an menentukan ukuran tangga surganya. Disampaikan kepada para penghafal al-Qur`an, ‘Naiklah ke tangga sesuai dengan yang kamu baca dari al-Qur`ân. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh al-Qur`ân maka ia mendapatkan tangga surga tertinggi dan siapa yang membaca satu juz darinya maka akan naik ke tangga sesuai ukuran tersebut. Sehingga ujungnya pahala berada pada ujungnya bacaan.”

Pernyataan imam al-Khatthabi ini disampaikan syaikh al-Albani rahimahullah dan dikomentari oleh beliau dengan pernyataan: “Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan Shâhibul Qur’ân (orang yang membaca al-Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan diimami oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (al Qur’an).’

Riwayat ini menunjukan kepada kita bahwa bacaan dan hafalan Al-Qur’an seseorang akan kembali diuji di akhirat sana, semakin banyak bacaan dan hafalannya maka semakin tinggi derajatnya di surga. Namun bukan yang hanya sekadar membaca atau menghafal tetapi yang mengamalkannya serta mendakwahkannya kepada orang lain.

Merujuk pada riwayat ini maka sejatinya perintah membaca bagi umat Islam bukan hanya berlaku di dunia namun ia akan terus membaca hingga di akhirat sana. Bahkan ketika telah masuk ke dalam surga, ia akan diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dari hafalannya sampai habis. Dan di sanalah derajatnya di surga sana.

Lebih dari itu adalah bahwa membaca dalam Islam bukan hanya sekadar memaknai kaata dan kalimat, akan tetapi mengamalkan apa yang menjadi bacaannya dari sumber-sumber yang positif sehingga akan bermanfaat bagi dirinya, tidak hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat sana. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi umat Islam untuk tidak membaca.

 

 

2 komentar:

  1. Alhamdulillah mendapat pengetahuan dan informasi berharga. Menjadi pengingat untuk terus Cinta AlQuran dan selalu membacanya. Matur nuwun sekali.

    BalasHapus
  2. Jazakallahu khairan atas nasihat nya ustadz

    BalasHapus

Please Uktub Your Ro'yi Here...