BUDAYA GEMAR MEMBACA SEJAK USIA DINI

on Senin, 18 Juni 2012

Oleh: Unang Wahidin

Abstrak
Membaca pada masa kini sudah merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Kenyataan ini merupakan suatu yang tidak dapat dibantah lagi. Membaca merupakan suatu keterampilan yang sangat penting bagi semua orang dalam masyarakat. Kebutuhan keterampilan akan membaca ini diperlukan setelah seseorang mulai membutuhkan informasi dan terus berlanjut sampai akhir hidupnya.
Membaca mempunyai peranan yang besar dalam keberhasilan seseorang di sekolah. Tidak dapat dibayangkan bagaimana proses belajar mengajar terjadi tanpa kegiatan membaca. Selain itu, peranan membaca setelah memasuki dunia kerja sebenarnya juga sama. Pengetahuan yang diperoleh dalam pendidikan merupakan bekal dasar dalam dunia kerja, tetapi perkembangan yang dihadapi tidak mencukupi tanpa ditambah dengan kegiatan membaca.
Belajar membaca sangat menentukan perkembangan mental anak dan merupakan kegiatan yang sangat penting untuk meningkatkan potensi diri anak usia dini. Hal ini dimungkinkan karena membaca melibatkan banyak faktor seperti pemahaman, penglihatan, waktu, jumlah, kecepatan, lingkungan sekitar, umur, ingatan, organisasi, gaya sastra, analisis, tipografi, kosa kata, konsentrasi, subvokalisasi, seleksi, pencatatan, dan motivasi.

Kata Kunci: Budaya Gemar Membaca, Usia Dini


A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu keutamaan besar dalam Islam, adalah membuka pintu-pintu pengetahuan selebar-lebarnya bagi para pengikutnya. Yakni, agar mereka menggali ilmu-ilmu yang bermanfaat dari semua bidang ilmu yang demikian luasnya itu. Pasalnya, dengan ilmu itulah kaum muslimin akan berhasil membangun sebuah masyarakat yang kokoh dan berbudaya. Pada sisi lain, mereka juga akan terdorong untuk senantiasa melakukan pembaruan, pengembangan dan kemajuan.
Al-Qur’an senantiasa mendorong kaum muslimin untuk belajar dan menuntut ilmu. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam surat Thaha ayat 114, yang berbunyi:
@è%ur Éb>§ ÎT÷ŠÎ $VJù=Ïã
Dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."

Juga firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 9 yang berbunyi:

ôö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

Dalam rangka mendorong umat Islam agar gemar menuntut ilmu ini, Al-Qur’an beberapa kali menyebutkan penghargaan yang demikian tinggi bagi orang-orang yang berilmu. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11, yang berbunyi:
Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz
 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Untuk mendapatkan derajat yang tinggi sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala di atas, maka manusia harus berilmu pengetahuan, karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk belajar. Manusia lahir tanpa memiliki pengetahuan, sikap, dan kecakapan apapun, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi mengetahui, mengenal, dan menguasai banyak hal. Itu terjadi karena manusia belajar dengan menggunakan potensi dan kapasitas diri yang telah dianugerahkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala kepadanya. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat al-Nahl ayat 78 yang berbunyi:
ª!$#ur Nä3y_t÷zr& .`ÏiB ÈbqäÜç/ öNä3ÏF»yg¨Bé& Ÿw šcqßJn=÷ès? $\«øx© Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur   öNä3ª=yès9 šcrãä3ô±s? ÇÐÑÈ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Orang mukmin hendaknya mampu mensyukuri anugerah tersebut dengan memfungsikan potensi dan kapasitasnya untuk selalu belajar. Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan.[1] Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Belajar juga memainkan peranan penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. 
Dari berbagai pengertian belajar yang berbeda-beda, tampaknya ada semacam kesepakatan di antara para ahli yang mengatakan bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar. Perubahan tersebut bersifat sebagai berikut:[2]
1.      Intensional, berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dan disadari, bukan kebetulan.
2.      Positif, berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar, di samping menghasilkan sesuatu yang baru yang lebih baik dibanding yang telah ada sebelumnya.
3.      Aktif, berarti perubahan itu terjadi karena usaha yang dilakukan pelajar, bukan terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan.
4.      Efektif, berarti perubahan itu memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar.
5.      Fungsional, berarti perubahan itu relatif tetap serta dapat direproduksi atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.
Perubahan di dalam orang yang belajar terdapat perbedaan keadaan antara sebelum dan sesudah melakukan kegiatan belajar. Pengertian tersebut memberi petunjuk bahwa keberhasilan belajar dapat diukur dengan adanya perubahan. Karenanya, keberhasilan suatu program pengajaran dapat diukur berdasarkan perbedaan cara belajar berpikir, merasa, dan berbuat sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman belajar dalam menghadapi situasi yang serupa.
Dalam sejarah proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, membaca merupakan kunci dari belajar. Keterampilan membaca secara kritis menjadi modal dasar untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menyintesiskan bahan bacaan. Dengan membaca, pemikiran terbuka untuk melihat antar hubungan ide-ide dan menggunakannya sebagai salah satu tujuan dari membaca.
Dalam membangun masyarakat yang beradab dan maju, maka budaya baca perlu ditumbuhkan. Hal ini yang mendasari  mengapa budaya baca terus-menerus dikumandangkan baik oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, pendidik, agamawan, hingga orang yang peduli pada kemajuan peradaban.
Saat ini masyarakat Indonesia pada umumnya masih berada dalam proses transisi dari budaya lisan ke budaya tulisan. Kebiasaan membaca masih belum berkembang dengan sepenuhnya pada anggota-anggota masyarakat. Kecenderungan mendapatkan informasi melalui percakapan (dengan lisan) tampaknya masih lebih kuat daripada melalui bacaan (dengan tulisan). Kecenderungan ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa relatif masih lemah. Anjuran yang sering terdengar dari pihak pemerintah dan berbagai kalangan pemimpin masyarakat untuk meningkatkan minat membaca adalah juga merupakan bukti kecenderungan di atas.
Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia masih dalam proses menuju masyarakat gemar membaca. Sayangnya, budaya membaca itu belum meluas. Kebiasaan dan kegemaran membaca, baru membudaya di kalangan kecil masyarakat, yakni para siswa/mahasiswa, guru, kaum intelektual, tokoh agama, serta orang karena tugas dan jabatannya dituntut untuk selalu membaca. Di sekolah formal pun, kebiasaan membaca sangat memprihatinkan. Di tingkat sekolah, survei yang dilakukan Bank Dunia (Indonesia: Book and Development) [3] mengungkapkan, “The reading habit does not appear to be established among primary school pupils”.
Di jenjang pendidikan dasar, kebiasaan membaca anak-anak masih rendah. Survei yang pernah dilakukan mencatat, kemampuan membaca anak Sekolah Dasar (SD) di Indonesia menempati peringkat ke-26 dari 27 negara yang disurvei. Fakta ini diperteguh hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2003 yang diselenggarakan oleh 80 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Penelitian tersebut menyimpulkan, kemampuan membaca anak-anak Indonesia usia 9-14 tahun berada pada urutan terbawah. Yang diukur PISA adalah kemampuan siswa untuk mengambil teks, kemampuan menafsirkan teks, serta kemampuan mengolah dan memberi makna pada teks tersebut. Dari 40 negara peserta penelitian PISA 2003 itu, Indonesia berada di urutan ke-40, atau pada Tingkat Satu. Artinya, anak Indonesia hanya sanggup mengambil satu atau dua informasi pokok dari sebuah teks, tidak sanggup ke luar dari maksud atau tema sebuah teks, dan membuat hubungan yang sederhana antara informasi dari teks dengan pengetahuan umum di luar teks sebatas itu memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Sedangkan dalam Laporan Program Pembangunan tahun 2005 Organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)[4] membuat daftar negara menurut tingkat melek huruf di mana Indonesia berada pada urutan ke-95 dari 175 negara. Dari data tersebut menggambarkan bahwa masih banyak dari masyarakat Indonesia yang belum bisa membaca atau buta huruf bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Dapat membaca berarti melek aksara atau melek huruf[5]. Lawan katanya adalah buta huruf atau tuna aksara, dimana ketidakmampuan membaca ini masih menjadi masalah. Melek aksara juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Dalam perkembangan modern kata ini lalu diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau dalam taraf bahwa seseorang dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca sehingga mampu menjadi bagian dari masyarakat tersebut.
Organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memiliki definisi melek aksara atau melek huruf sebagai berikut:[6]
“Melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi”.
Kemampuan membaca dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, di mana hal ini berkaitan langsung bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas.
Banyak analis kebijakan menganggap angka melek aksara adalah tolak ukur penting dalam mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu daerah. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa melatih orang yang mampu baca memiliki status sosial ekonomi, kesehatan, dan prospek meraih peluang kerja yang lebih baik. Argumentasi para analis kebijakan ini juga menganggap kemampuan baca juga berarti peningkatan peluang kerja dan akses yang lebih luas pada pendidikan yang lebih tinggi.

Sumber : Jurnal Edukasi Islami Vol. 01 Tahun 2012 STAI Al-Hidayah Bogor

[1]     Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2000, hlm:94.
[2]     H.M. Suparta dan Herry Noer Aly, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Amissco, 2003, hlm:27.
[3]     R. Masri Sareb Putra, Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini, Jakarta, 2008, hlm:131.
[4] United Nations Development Programme Report, 2005. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar  negara menurut tingkat melek huruf, Html. 20 Februari 2010.
[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 2002, hlm:729.
[6]     http://id.wikipedia.org/wiki/Melek aksara, Html. 22 Februari 2010.

0 comments:

Poskan Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...