Metodologi Pembelajaran

on Sabtu, 02 Juni 2012
Oleh : Romly

Metode, dalam bahasa Arab, dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.[1]   Menurut Ahmad Husain al-Liqaniy, metode adalah: “Langkah-langkah yang diambil seorang pendidik guna membantu peserta didik merealisasikan tujuan tertentu.[2] Dalam bahas Arab, kata metode dikenal dengan istilah  thariqah  yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian peserta didik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa metode metode merupakan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan teknik berarti: metode atau sistem untuk mengerjakan sesuatu.
Metode dan teknik mempunyai pengertian yang berbeda meskipun tujuannya sama. Metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan, sementara teknik  adalah cara  mengerjakan  sesuatu.  Dengan demikian, metode mempunyai pengertian yang lebih luas dan konsepsional. Sedangkan   pendekatan (approach) merupakan pandangan falsafi terhadap subject-matter yang harus diajarkan dan selanjutnya melahirkan metode mengajar. Dalam pelaksanaannya, metode dalam pendidikan dijabarkan dalam bentuk teknik penyajian bahan pelajaran.[3]
Pengertian metode sebagaimana diungkapkan oleh beberapa ayat dalam al-Qur’an, ternyata memperlihatkan muatan, nuansa dan kaitan yang amat luas. Thariqah yang digunakan tersebut terkadang digunakan sebagai sarana untuk mengantarkan kepada suatu tujuan, terkadang al-Qur’an menunjukkan tentang sifat dari jalan yang harus ditempuh, akibat dari kepatuhan pada jalan yang ditempuh itu, dan terkadang pula berarti suatu tempat. Dengan demikian, metode atau jalan oleh al-Qur’an dilihat dari sudut objeknya, fungsinya, akibatnya dan sebagainya. Ini dapat diartikan bahwa perhatian al-Qur’an terhadap metode demikian tinggi, dimana al-Qur’an lebih menunjukkan isyarat-isyarat yang memungkinkan metode ini dikembangkan lebih lanjut. Namun demikian, secara eksplisit al-Qur’an tidak menunjukkan arti dari metode pendidikan Islam, karena al-Qur’an memang bukan pengetahuan tentang metode.
Pemahaman sangat dituntut peranannya untuk menemukan pengertian dari macam-macam, begitu juga dengan metode. Mungkin ada metode yang baik untuk pelajaran tertentu dan oleh guru tertentu, tetapi tidak cocok untuk pelajaran lainnya.[4]
Minhaj/manhaj, adalah jalan yang terang dan langkah yang terencana. Dari kata itu dipergunakan juga istilah: Manhajud Dirasah, Minhaj Al-Ta’lim (metode studi dan pengajaran) dan sebagainya, jama’nya: Manhaj al-Tarbiyah al- Nabawiyah Lith-Thifli, Al- Tarbiyah.[5]]
Manhaj Islam  mengarahkan   para  pendidik  dan  orang tua  agar bersikap lemah lembut dan santun kepada anak pada usia pra sekolah atau balita karena sangat memberi pengaruh besar dalam suksesnya proses pendidikan dan pembentukan kepribadian anak. Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
ان ارفق لايكون في شي ءالا زانه ولاينزع من شيءالاشانه                                  
 “Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya dan tidaklah dicabut pada sesuatu kecuali akan merusaknya”. [6]  
Dari Aisyah ra., Rasulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ فَقُلْتُ بَلْ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ قُلْتُ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ
Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan cinta kelembutan dalam segala perkara”.[7]
Hendaknya kepada para pendidik memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin sesuai pengarahan Umar bin Khaththab ra. “Ajarilah anakmu beberapa nilai kebaikan,” dan diantara kebaikan itu adalah mengajarkan anak  menghafal  al-Qur’an, as-Sunnah  dan  masalah  fiqih serta beberapa pendapat para ulama. Orang tua harus membuat permainan anak yang bagus dan mendidik serta mengembangkan daya nalar dan kreativitas anak terutama kemampuan untuk meniru dan menghafal harus diberdayakan semaksimal mungkin.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda:
مامن مولودالايولدعلى الفطرة فابوه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهمة بهيمة جمعاءهل تحسون فيهامن جدعاء وفي رواية : حتى تكونواتجدعونها
                          “Tidaklah seorang anak terlahir melainkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi; sepertii hewan yang sehat dan tidak cacat melahirkan yang sehat, apakah kalian mendapatkannya (melahirkan turunan) yang cacat”. Dalam suatu riwayat, “Hingga kamulah yang menjadikannya cacat.”

Dari Ibnu Umar ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته, والامام راع ومسؤول عن رعيته والرجل راع في اهله ومسؤل عن رعيته, والمراة راعية قي بيت زوجها ومسؤولة عن ر عيتها, والخا دم راع في مال سيد ه ومسؤول عن رعيته, وكلكم راع ومسؤول عن رعيته
Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya, wanita adalah penanggungjawab atas rumah suaminya dan akan dimintai tanggung jawabnya serta pembantu adalah penanggungjawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya.[8]

Dari Abu Ya’la Ma’qil bin Yasar ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
ما من عبد يسترعيه الله رعية, يموت يوم يموت وهوغا ش لرعيته الاحرم الله         عليه الجنة                                                             
Tidaklah seorang hamba yang diberi tanggungjawab oleh Allah sebuah amanah lalu ia meninggal dalam keadaam menipu tanggungjawabnya kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya”.[9]
Yang dimaksud dengan metodologi adalah cara atau jalan untuk menuju kepada sesuatu. Sedangkan penyelidikan (research) bermaksud mencari apa? mencari kebenaran. Jadi metodologi penyelidikan bermaksud cara atau jalan mencari kebenaran seperti yang terdapat dalam al-Qur’an.[10]
Berbicara tentang metodologi adalah berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran, baik dalam aspek partial atau total. Karena kita bicara tentang metodologi maka pertama-tama sekali kita harus berbicara tentang manusia yang menjadi kutub subjektif dari pengetahuan, yaitu subjek yang mengetahui. Kutub ini terdiri dari seluruh kuasa (faculties) mengetahui yang ada pada manusia yang sifatnya bersifat hierarki. Dengan kata lain, manusia sanggup memiliki berbagai tingkat kesadaran.[11]
Selanjutnya, dalam membicarakan metodologi, kita harus bicara tentang alam jagad, yang merupakan kutub objektif dari pengetahuan yaitu objek yang dapat diketahui yang juga bersifat hierarkis. Dengan kata lain, alam jagad memiliki wujud yang bertingkat-tingkat. Metodologi yang digunakan oleh pemikir-pemikir Islam justru berusaha mencari hubungan antara dua hierarki ini: hierarki ini mengetahui yang ada pada manusia dan hierarki alam jagad, dan prinsip yang mengatur hubungan itu.[12]
Ada beberapa aspek Strategi Pendidikan Agama Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia:
Aspek pertama adalah strategi pendidikan, bukan strategi pendidikan agama; jadi pendidikan adalah kata sifat bagi strategi, jadi strategi pendidikan, bukan strategi pendidikan agama. Karena dalam merekayasa sebagai  strategi,  bisa  diciptakan  berbagai  macam  strategi.  Ada  strategi

pendidikan, strategi politik, strategi ekonomi dan sebagainya. Jadi yang kita bicarakan disini adalah strategi pendidikan mengenai agama, dan dalam konteks tulisan ini adalah mengenai agama Islam. Akar kata strategi adalah “strategos” yang berasal dari bahasa Latin yang berarti cara memimpin pasukan (tentara misalnya) atau seni menjalankan kampanye perang, penggunaan kata “strategi” ini kemudian meliputi segala peraturan perencanaan atau seni manajerial dalam segala aspek kehidupan.
Aspek kedua yang juga perlu diperhatikan adalah tentang pendidikan agama dalam hubungannya dengan pendidikan Islam.
Aspek ketiga adalah sumber daya manusia, yaitu setiap orang telah dan mungkin menjadi sumber yang berguna bagi masyarakat dan negara, dengan kata lain setiap individu di masyarakat tanpa melihat umurnya bisa menjadi sumber yang berguna, oleh karena itu meliputi seluruh anggota masyarakat. Aspek ini akan kita uraikan secara terperinci.
Aspek keempat adalah tentang meningkatkan kualitas, karena sumber daya manusia itu sendiri ada dua macam yaitu yang terpendam: sumber daya manusia yang belum diolah setengah atau keseluruhannya dan belum menjadi sumber yang berguna, dan yang kedua yang telah dikembangkan, yaitu sumber daya manusia yang telah diolah dan telah menjadi sumber yang berguna bagi manusia.[13]
Kata strategi bermakna sejumlah prinsip dan pikiran yang mengarahkan tindakan sistem-sistem pendidikan di dunia Islam. Memperhatikan bahwa kata terakhir, yaitu dunia Islam, memiliki ciri-ciri khas yang tergambar dalam Aqidah Islamiyah, maka patutlah strategi pendidikan itu mempunyai corak Islam. Jadi tempat bertolak selalu adalah Islam dan ajarannya yang suci.[14]
Metode pembelajaran memiliki kedudukan yang amat strategis dalam mendukung keberhasilan pengajaran. Itulah sebabnya, para ahli pendidikan sepakat bahwa seorang guru yang ditugaskan mengajar di sekolah, haruslah guru yang profesional, yaitu guru yang antara lain ditandai oleh penguasaan yang prima terhadap metode pengajaran. Melalui metode pengajaran, mata pelajaran dapat disampaikan secara efisien, efektif dan terukur dengan baik, sehingga dapat dilakukan perencanaan dan perkiraan dengan tepat.[15]
Teori pembelajaran menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Teori ini menaruh perhatian pada “bagaimana   seorang   belajar.”  Teori   pembelajaran    sebaliknya,   yakni menaruh perhatian pada bagaimana seseorang memengaruhi orang lain agar terjadi hal belajar. Dengan kata lain, teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar.[16]


[1] Shahih Abd al-Aziz, al-Tarbiyah al-Haditsah Maddatuha, Mabadi’uha, Tatbiqatuha al-Amaliyah (al-Tarbiyah wa Thuruq al-Tadris), (Kairo:Dar al-Ma’arif, 1119 H), hal. 196. Lihat Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal. 155.
[2] Ahmad Husain al-Ligani, Mu’jam al-Musthalahat al-Tarbawiyah al-Mu’arrah fi al-Manhaj wa Thuruqu al-Tadris, (Mesir: ‘Alam al-Kutub, 1996), Cet. I, h. 127, lihat Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hal. 209.         
[3] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009) hlm. 209.
[4] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, hal. 144.
[5] Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Cara Nabi Muhammad Mendidik Anak, (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2006), hal. xvii.
[6] Imam Abi Zakaria Yahya bin Syarif an-Nawawy, Kitab Riyadus Shalihin, Dar al Kutub, Bairut, hal.187 Hadits ke 631-633
7 Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi, Begini Seharusnya Mendidik Anak; Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan Hingga Dewasa dengan judul asli Kaifa Turabbi Waladan Shalihan, (Jakarta: Darul Haq, 2008), hal. 132.
Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi. 135.
[8] Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi. 142.
[9] Al-Maghribi bin as-Said al-Maghribi. 143.
[10]Hasan Langgulung, Kreativitas dan Pendidikan Islam; Analisis Psikologi dan Falsafah,  (Jakarta: Pustaka Al Husna, 1991), hal. 29-30.
[11] Hasan Langgulung, hal. 36-37.
[12] Hasan Langgulung, hal. 36-37.

[13] Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), hal. 255-256.
[14] Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial,  hal. 261.
[15] Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), hal. 176-177.
[16] Baharuddin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan,  hal. 117. 

0 comments:

Poskan Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...