Kamis, 18 April 2013

Sekilas Baduy VS Naga

Oleh: Rena Rahmawati

Indonesia ialah negara yang terdiri dari beribu ribu pulau dari sabang sampai merauke. Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki semboyan Bhineka tunggal ika, yang bermakna meskipun berbeda beda tetapi tetap satu jua. semboyan ini merujuk pada masyarakat Indonesia yang memiliki berbagai suku, agama, ras.  Setiap suku. Agama dan ras di Indonesia memiliki budaya yang beragam. Keragaman budaya ini dapat dilihat dari bentuk rumah, bahasa,pakaian, dan lain lain. Sayangnya di era globalisasi ini, banyak dari budaya –budaya Indonesia terkontaminasi oleh kemodernisasian. Namun di Indonesia, masih terdapat suku yang masih memegang teguh kebudayaanya dan menolak segala sesuatu selain dari budayanya sendiri. Diantaranya adalah suku Badui yang tinggal didaerah Banten  dan suku Naga yang tinggal didaerah Tasikmalaya.
Sebagai mahasiswa fakultas humaniora dan budaya, maka sudah menjadi keharusan bagi kita belajar tentang keanekaragaman suku dan budaya yang ada di Indonesia. Oleh karena itu melalui pembuatan makalah ini kami ingin mengetahui secara terperinci tentang suku-suku yang masih memegang teguh budayanya. sehingga kami dapat mengambil  nilai-nilai positif dari kebudayaan-kebudayaan mereka.
Apa yang di maksud dengan masyarakat dan kebudayaan suku Badui yang ada di Indonesia.Apa yang di maksud dengan masyarakat dan kebudayaan suku Naga di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara detail tentang suku Badui maupun kebudayaan mereka.Untuk mengetahui  secara terperinci tentang suku Naga serta kebudayaan mereka.

1.      SUKU BADUY
Baduy adalah sebutan yang melekat pada orang-orang yang tinggal di sekitar kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabuten Lebak, Provinsi Banten dengan ciri-ciri yang khas dan unik dibanding dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka, demikian juga dengan orang-orang daerah Banten lainnya. Keunikan mereka terlihat jelas dalam cara pakaian, keseragaman bentuk rumah, penggunaan bahasa, kepercayaan, dan adat istiadat.
Istilah kata Baduy itu sendiri ada yang menduga berasal dari kata “Badawi”, yaitu suatu julukan bagi orang-orang yang bertempat tinggal tidak tetap yang hidup di sekitar Jazirah Arab. Pendapat ini didasarkan pada kesamaan perilaku orang Badawi dengan kehidupan sehari-hari mereka yang selalu sibuk beraktivitas dari tempat yang satu ke tempat lainnya, dari kegiatan satu ke kegiatan yang berikutnya, tiada hari tanpa bergerak untuk berladang dan setiap tahun tempat berladang selalu berpindah-pindah. Namun, pendapat ini sangat ditentang oleh kesukuan mereka terutama tokoh adat dan para pemangku adat. Mereka menjelaskan bahwa istilah Baduy sebenarnya adalah sasaka dari sebuah nama sungai tempo dulu, yaitu sungai Cibaduy yang mengalir di sekitar tempat tinggal mereka, juga berdasarkan nama salah satu bukit yang berada di kawasan tanah ulayat mereka, yaitu Bukit Baduy (Asep Kurnia; 2010)
Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa Suku Baduy itu dibagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam dapat dikatakan repsentasi dari masyarakat Baduy masa lalu yang mendekati pada pewaris asli budaya dan amanat leluhur kesukuan mereka. Baduy luar adalah komunitas baduy yang dipersiapkan sebagai penjaga, penyangga, penyaring, pelindung dan sekaligus penyambung silaturrahmi yang intensif dengan pihak luar sebagai bentuk penghargaan, kerjasama dan partisipasi aktif dalam kegiatan kenegaraan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu suku bangsa yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban sama dengan warga negara Indonesia lainnya.
Mereka sangat memegang teguh pikukuh karuhun yakni suatu doktrin yang mewajibkan mereka melakukan berbagai hal sebagai amanat leluhurnya. Pikukuh karuhun tersebut antara lain mewajibkan mereka untuk :
Bertapa bagi kesejahteraan dan keselamatan pusat dunia dan alam semesta.Memelihara sasaka pusaka buanaMengasuh ratu memelihara menakMenghormati guriang dan melaksanakan mujaMelakukan seba setahun sekaliMenyelenggarakan dan menghormati upacara adat ngalaksaMempertahankan dan menjaga adat bulan kawalu (Asep Kurnia;2010, hal. 28)
Beberapa aspek yang meliputi suku Baduy antara lain yaitu:
A.    Mata pencaharian
Mata pencaharian mereka yang pokok adalah bercocok tanam secara khusus berladang (ngahuma) setahun sekali, menanam padi disawah dilarang adat karena mengubah stuktur tanah atau alam. Berladang juga dipandang merupakan kewajiban pokok bagi setiap warga baduy dan tidak boleh ditinggalkan mengingat ngahuma juga merupakan salah satu acara ritual adat setara dengan bentuk ibadah sesuai dengan keyakinan Ajaran Sunda Wiwitan. Mata pencaharian lainnya adalah nyadap kawung (air nira) yang kemudian mereka olah gula merah/gula kawung murni, menjual hasil bumi berupa buah-buahan seperti durian, pisang, buah ranji, lada khusus baduy, madu, coklat dan lain-lain. Pada waktu tertentu saat pengunjung Baduy ramai beberapa orang laki-laki dewasa terkadang menawarkan jasa memikul, membantu para pengunjung (menjadi pouter). Dalam rangka memenuhi kebutuhan terutama pangan, khusus di baduy luar sudah mulai terbuka bagi penyelenggara usaha yang berorientasi pasar (berdagang) yang dilaksanakan dirumah penduduk. Kini hampir di setiap kampung ada warga yang berdagang, bahkan sudah mulai bermunculan pengusha kecil dan menengah, baik secara individu maupun kelompok yang jaringan kerjanya cukup luas(Asep Kurnia; 2010, hal. 65)

Pernikahan
Proses perkawinan di baduy melalui tiga tahapan lamaran yaitu, lamaran yang pertama pihak keluarga laki-laki mendatangi pihak keluarga perempuan, untuk bermusyawarah membicarakan rencana perjodohan sampai ditemukannya titik kesepakatan antara kedua belah pihak tersebut. Proses lamaran kedua dilakukan pihak laki-laki dengan langkah atau tahapannya tidak berbeda jauh seperti lamaran pertama hanya saja pada tahapan ini dilengkapi dengan acara tukar cincin yang disiapkan oleh pihak laki-laki yang disebut dengan tunangan (nyeureuhan). Dilanjutkan proses lamaran ketiga yang cukup penting , karena didalamnya terdiri dari syarat yang dilakukan dalam proses lamaran sebelumnya ditambah syarat pada lamaran ketiga. Penekanannya adalah kedua belah pihak sama-sama mempersiapkan baju nikah. Pihak laki-laki mempersiapkan baju untuk pihak perempuan, begitupun untuk pihak perempuan mempersiapkan baju untuk pihak laki-laki. Pihak laki-laki juga harus mempersiapkan perlengkapan peralatan rumah tangga. Lamaran ketiga ini dilaksanakan dibalai adat yang dipimpin oleh puun serta dihadiri kedua belah pihak dan perangkat adat, yang disaksikan oleh masyarakat Baduy dalam. Acara ini dinamakan seserahan/seserenan.
Dalam acara ini ada ritual penting yaitu pembacaan sahadat adat yang dibacakan oleh puun untuk kedua belah pihak tadi, diantaranya : sahadat wiwitan, sahadat tunggal, sahadat samping, sahadat batin dan sebagai pelengkap adalah sahadat kanjeng Nabi Muhammad SAW (Asep Kurnia; 2010 hal. 180)

Tatanan Masyarakat Suku Baduy
Masyarakat suku Baduy mempunyai tatanan masyarakat yang sangat unik, yaitu dipimpin oleh tiga kepala suku (puun) yang disebut Tritunggal. Akan tetapi dalam ketiga kepala suku tersebut mempunyai keputusan bersama-sama karena mempunyai hak atau wewenang dalam pemerintahan yang sama. Hal itu menunjukkan adanya satu-kesatuan dalam kekuatan yang utuh dalam mengambil keputusan pemerintahan, hal ini yang membedakan konsep trias politikanya montesque di mana konsep ini lebih menitik beratkan pada konsep pembagian kekuasaan negara pada lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang pada praktiknya menumbuhkan persaingan politis kurang sehat. Ketiga puun tersebut yaitu puun cibeo, puun cikartawana, dan puun cikeusik.

Sistem Kepercayaan Orang Baduy
Dasar religi orang Baduy ialah penghormatan ruh nenek moyang dan kepercayaan kepada satu kuasa, Batara Tunggal. Keyakinan mereka itu disebut Sunda Wiwitan atau agama Sunda Wiwitan. Dimaksudkan supaya orang hidup menurut alur itu dalam menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia ramai (orang Baduy dari hirarki tua dan dunia ramai keturunan yang lebih muda). Mereka bertugas menyejahterakan dunia melalui tapa (perbuatan, bekerja) dan pikukuh apabila Kanekes sebagai inti jagat selalu terbelihara baik, maka seluruh kehidupan akan aman sejahtera. Konsep keagamaan dan adat terpenting yang menjadi inti pikukuh Baduy tanpa perubahan apa pun, seperti dikemukakan oleh peribahasa “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung). Konsep-konsep itu tidak berada dalam diri orang Baduy sendiri yang kekuatannya tergantung dari perbuatan seseorang. Konsep pikukuh merupakan pengejawantahan dari adat dan keagamaan yang ditentukan oleh intensitas konsep mengenai karya dan keagamaan. Dengan melaksanakan semuanya itu orang akan dilindungi oleh kuasa tertinggi, Batara Tunggal, melalui para guriang yang dikirim oleh karuhun dan Batara Tunggal karena orang tidak patuh kepada pikukuh, hakikat agama Sunda Wiwitan.
Para puun itu bukan hanya pemimpin tertinggi tetapi keturunan karuhun, yang langsung mewakili mereka di dunia. Ada beberapa konsep yang merupakan kewajiban puun dalam rangka pikukuh, yaitu memelihara Sasaka Pusaka Buana; memelihara Sasakan Domas atau Parahyang; mengasuh dan memelihara para bangsawan/pejabat; bertapa bagi kesejahteraan dunia; berbakti kepada dewi padi dengan berpuasa pada upacara, memuja nenek-moyang, dan membuat laksa untuk bahan pokok seba (Garna 1988).
Nenek moyang orang Baduy dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu nenek moyang yang berasal dari masa para Batara dan masa para puun. Batara Tunggal digambarkan dalam dua dimensi, sebagai suatu kuasa dan kekuatan yang tak tampak tetapi berada di mana-mana, dan sebagai manusia biasa yang sakti. Dalam dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal mempunyai keturunan tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia di kabuyutan (tempat nenek-moyang), yaitu titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana. Mereka itu ialah Batara Cikal, yang diberitakan tidak ada keturunannya, Batara Patanjala yang menurunkan tujuh tingkat batara ketiga, yaitu (dari yang paling senior) Daleum Janggala, Daleum Lagondi, Daleum Putih Seda Hurip, Dalam Cinangka, Daleum Sorana, Nini Hujung Galuh, dan Batara Bungsu. Mereka itu yang menurunkan Bangsawan Sawidak Lima atau tujuh batara asal, nenek moyang orang Baduy. Daleum Janggala adalah batara yang tertua, dan yang menurunkan kerabat tangtu Cikeusing; Daleum Putih Seda Hurip menurunkan kerabat kampung Cibeo. Para batara tingkat ketiga lain masing-masing menurunkan jenis kerabat pemimpin lainnya.
Lima batara tingkat kedua, saudara-saudara muda Batara Pantajala, yaitu Batara Wisawara, Batara Wishnu, Batara Brahmana, Batara Hyang Niskala, dan Batara Mahadewa, menurunkan kelompok kerabat besar di luar Baduy yang disebut salawe nagara (dua puluh lima negara), yang menunjukkan jumlah kerabat yang besar, dan menurut pengetahuan orang Baduy adalah wilayah yang sangat luas di sebelah Sungai Cihaliwung (Garna 1988). Kelompok kerabat itulah yang dianggap orang Baduy keturunan yang lebih muda.
Dari ketujuh orang batara tingkat ketiga nenek-moyang orang Baduy itu tampak bahwa hanya kerabat jaro dangka yang berasal dari garis keturunan perempuan. Lainnya diturunkan melalui garis keturunan patrilineal. Para puun adalah keturunan Batara Patanjala, dan sampai masa akhir abad ke-19 oleh Jacobs dan maijer dicatat sudah terjadi 13 kali pergantian puun Sikeusik (1891: hlm. 13). Menurut catatan tahun 1988, jumlah puun Cikeusik adalah 24 orang, dan yang terakhir adalah Puun Sadi (Garna 1988).
Suatu konsep penting dalam religi orang Baduy ialah karuhun, yaitu generasi-generasi pendahulu yang sudah meninggal. Mereka berkumpul di Sasaka Domas, yaitu tempat di hutan tua di hulu Sungai Ciujung. Karuhun dapat menjelma atau datang dalam bentuk asalnya menengok para keturuannya, dan jalan untuk masuk ialah melalui hutan kampung.
Dalam kaitan dengan konsep karuhun itu ada konsep lain, yaitu guriang, sanghyang, dan wangatua. Guriang dan sanghyang dianggap penjelmaan para karuhun untuk melindungi para keturunannya dari segala marabahaya, baik gangguan orang lain maupun mahluk-mahluk halus yang jahat (seperti dedemit, jurig, setan) wangatua ialah ruh atau penjelmaan ruh ibu bapak yang sudah meninggal dunia.
Kosmologi orang Baduy yang menghubungkan asal mula dunia, karuhun dan posisi tangtu, merupakan konsep penting pula dalam religi mereka. Karena itu wilayah yang paling sakral ada di Kanekes, terutama wilayah taneuh larangan (tanah suci, tanah terlarang) tempat kampung tangtu dan kabuyutan. Bumi dianggap bermula dari masa yang kental dan bening, yang lama-kelamaan mengeras dan melebar. Titik awal terletak di pusat bumi, yaitu Sasaka Pusaka Buana tempat tujuh batara diturunkan untuk menyebarkan manusia. Tempat itu juga merupakan tempat nenek moyang. Kampung tangtu kemudian dianggap sebagai inti kehidupan manusia, yang diungkapkan dengan sebutan Cikeusik, Pada Ageung Cikartawana disebut Kadukujang, dan Cikeusik disebut Parahyang, semua itu disebut Sanghyang Daleum. Secara khusus posisi tempat nenek moyang (kabuyutan) dan alur tangut dalam memperlihatkan kaitan karuhun, yaitu Pada Agueng, Sasaka Pusaka Buana, dangkanya disebut Padawaras; Kadukujang, Kabuyutan ikut pada Cibeo dan Cikeusik dengan dangka-dangkanya yang disebut Sirah Dayeuh. Konsep buana (buana, dunia) bagi orang Baduy berkaitan dengan titik mula, perjalanan, dan tempat akhir kehidupan. Ada tiga buana, yaitu Buan Luhur atau Buana Nyungcung (angkasa, buana atas) yang luas tak terbatas, Buana Tengah atau Buana Panca Tengah, tempat manusia melakukan sebagian besar pengembaraannya dan tempat ia akan memperoleh segala suka-dukanya. Buana Handap (buana bawah) ialah bagian dalam tanah yang tak terbatas pada luasnya. Keadaan di tiga buana itu adalah seperti halnya dunia ini, ada siang dan ada malam, dan keadaannya sebaliknya dengan di dunia.
Konsep lain dalam religi orang Baduy ialah kaambuan atau ambu (ibu, wanita, ibu suci). Menurut orang Baduy ada tiga ambu yang penting (peling tidak yang ditakuti dan disegani) yaitu Ambu Luhur di Buana Luhur, Ambu Tengah di Buana Panca Tengah, dan Ambu Rarang di Buana Handap. Ambu Tengah ialah pemelihara kehidupan yang harus dihormati dengan kesungguhan melakukan pikukuh. Ambu luhur tidak hanya mengurus tempat orang Baduy setelah mati, tetapi juga dengan segala kekuatan dan kesaktiannya, Ambu Rarang dapat menyelesaikan setiap masalah kehidupan dengan menyebut namanya atau membaca mantera-mantera. Sedang Ambu Rarang adalah ambu yang menerima jasad dan ruh orang Baduy yang mati untuk diurus selama tujuh hari dan melepaskannya setelah 40 hari ke tempat akhir tetapi juga bentuk nyata dari Buana luhur.

Pakaian Suku Baduy
Dalam kehidupan keseharian manusia, berpakaian merupakan salah satu alat untuk melindungi diri dan menunjukan citra diri terhadap orang lain. Dalam hal ini masyarakat Baduy yang merupakan suku terasing di Banten sudah memikirkan dalam hal berpakaian dalam masyarakatnya..Sebelumnya Suku Baduy adalah suku yang menetap di ujung Pulau Jawa sebelah barat Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat, yaitu Baduy Luar, yang tinggal luar daerah Baduy Dalam,dan baduy dalam yang menetap di Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik.Dalam pandangannya mereka yakin berasal dari satu keturunan, yang memiliki satu keyakinan, tingkah laku, cita-cita, termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana, perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar, model dan warnanya saja.Baduy Dalam merupakan masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai budaya warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial, tingkat umur maupun fungsinya.
Untuk Baduy Dalam, para pria memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang, karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Desain baju sangsang hanya dilubangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Potongannya tidak memakai kerah, tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun.Untuk bagian bawahnya menggunakan kain serupa sarung warna biru kehitaman, yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Agar kuat dan tidak melorot, sarung tadi diikat dengan selembar kain. Untuk kelengkapan pada bagian kepala suku baduy menggunakan ikat kepala berwarna putih. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang, kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk Masyarakat Baduy yakin dengan pakaian yang serba putih polos itu dapat mengandung makna suci bersih
Bagi suku Baduy Luar, busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah, seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong, kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Cara berpakaian suku Baduy Luar Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Terlihat dari warna, model ataupun corak busana Baduy Luar, menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. busana bagi kalangan pria Baduy adalah amat penting. Bagi masyarakat Baduy Dalam maupun Luar biasanya jika hendak bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya serta dilengkapi dengan membawa tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya.
Sedangkan, untuk busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy dalam maupun Baduy Luar tidak terlalu menampakkan perbedaan yang mencolok. Model, potongan dan warna pakaian, kecuali baju adalah sama. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. Bagi wanita yang sudah menikah, biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas, sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. Untuk pakaian bepergian, biasanya wanita Baduy memakai kebaya, kain tenunan sarung berwarna biru kehitam-hitaman, karembong, kain ikat pinggang dan selendang. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya, masyarakat suku Baduy menenun sendiri yang dikerjakan oleh kaum wanita. Dimulai dari menanam biji kapas, kemudian dipanen, dipintal, ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam, biru tua dan putih. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya, yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih, sedangkan selendang berwana putih, biru, yang dipadukan dengan warna merah.Selain itu, kalangan pria juga melakukan kerajinan di antaranya adalah membuat golok dan tas koja.
Dari model, potongan dan cara berbusananya saja, secara sepintas kita akan tahu bahwa mereka adalah suku Baduy. Pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja, melainkan sebagai identitas budaya yang semuanya itu adalah warisan dari karuhun atau nenek moyang untuk dijaga. Oleh karenanya kita harus lebih banyak mengampil contoh kehidupan positif dari masyarakat Baduy yang tidak mengeyam pendidikan formal.

Kesenian Suku Baduy
Suku Baduy adalah salah satu suku yang sarat dengan kerajinan tangan. Kreativitas mereka tidak perlu lagi dipertanyakan, salah satunya hasil karya mereka yang berbentuk kain tenun. Terbukti dengan akan diadakannya Pameran Banten Expo yang bertempat di Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang pada Jum’at, 1 Oktober 2010.
Produktivitas dari para perajin memang sangat baik. Hal ini dikarena peran serta dari pihak pemerintahan dalam memberikan bimbingan dan dorongan, seperti pembinaan atau pendidikan kewirausahaan. Selain itu, pihak pemerintahan daerah juga melakukan promosi sehingga hasil kreasi Suku Baduy memiliki pasar yang luas

2.   SUKU NAGA
Kampung Naga adalah daerah yang terletak di daerah Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun lokasinya berdekatan dengan daerah modern, tetapi penduduk disana masih sangat  memelihara, mempertahankan dan memegang teguh adat-istiadat dan kebudayaan leluhur dan nenek moyangnya. Lokasi detailnya yaitu berada pada jalur regional antara Garut-Tasikmalaya, tepatnya pada 33 Km kearah barat Tasikmalaya dengan ketinggian 488 m dari permukaan laut dengan luas area pemukiman Kampung Naga seluas 1,5 ha. Sedangkan batas daerah kampung Naga yaitu sebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan dan sebelah barat dan selatan dibatasi oleh perbukitan.
Secara umum masyarakat kampung Naga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a.    Kelompok masyarakat Kampung Naga yang berada di pemukimanm Kampung Naga sendiri
b.   Kelompok masyarakat Kampung Naga yang berada di luar pemukiman yang disebut juga Sanaga
Latar belakang atau asal muasal masyarakat Kampung Naga tidak dapat dijelaskan dan dideskipsikan secara jelas dari mana asalnya, sebab satu buku yang menceritakan tentang sejarah Kampung Naga yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada tahun 1956 ikut terbakar sewaktu adanya penyerangan oleh gerombolan DI/TII pimpinan Karta Suwiryo. Tetapi menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, karuhun atau leluhur mereka dikenal dengan sebutan “Sembah Dalem Singaparna yang menjadi panutan seluruh tatanan kehidupan adat tradisi serta hukum adat dan sebagai penghormatan terhadap beliau maka la dimakamkan disebelah barat Kampung Naga.
Dalam pembuatan makalah ini, kami akan menjelaskan secara lebih mendalam tentang masyarakat kampong naga kedalam beberapa elemen, diantaranya yaitu:

Penduduk
Masyarakat Kampung Naga saat ini sekitar 325 jiwa yang terdiri dari 106 kepala keluarga dengan jumlah areal pemukiman Kampung Naga tidak akan diperluas apalagi menambah jumlah bangunan baru. Hal ini terjadi bukan karena adanya larangan dari pihak pemerintah atau pihak kampung naga sendiri namun lahan disana sangat terbatas. Sebab itulah apabila ada warga Kampung Naga yang membangun rumah harus rela mencari tempat di luar Kampung Naga. Jadi suku ini berbeda dengan orang Baduy. Meskipun orang kampong naga berdomisili selain di Kampung Naga, mereka tetap disebut masyarakat kampung naga.

Bahasa
Bahasa yang digunakan tersebut adalah bahasa sunda yang telah turun-temurun menjadi bahasa pergaulan dari leluhurnya. Beberapa dari warga juga ada yang bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar namun hanya minoritas saja.

Mata Pencaharian
Mata pencaharian orang Naga mayoritas adalah petani, namun dalam perkembangan pada masa sekarang jumlah mata pencaharianpun mulai bertambah seperti sebagai pedagang kecil, penjual kerajinan, sebagai buruh di kota dan sebagian menjadi pegawai negri dan sebagainya.

Tingkat Pendidikan
Pada umumnya tingkat pendidikan orang Naga masih rendah hanya sebagian kecil yang lulus dari perguruan tinggi.

Kesenian
Masyarakat Kampung Naga memiliki bentuk-bentuk kesenian yang dilaksanakan sehubungan dengan adat-istiadatnya sehingga dalam pelaksanannya lebih mengarah seperti pada upacara-upacara adat, seperti: nyanyian yang berbau agama dan memiliki arti filosofis yang tinggi, bangunan rumah dengan bilik-bilik rumah yang indah dan berbeda antara bilik untuk dapur dan ruang depannya serta dalam bentuk atap yang tidak memakai genting tetapi daun-daun yang ditata rapi nan indah.
Terdapat tiga pasangan kesenian di Kampung Naga diantaranya : Terebang Gembrung yang dimainkan oleh dua orang sampai tidak terbatas biasanya ini dilaksanakan pada waktu Takbiran Idul Fitri dan Idul Adha serta kemerdekaan RI. Alat ini terbuat dari kayu. Terebang Sejat, dimainkan oleh 6 orang dan dilaksanakan pada waktu upacara pernikahan atau khitanan massal. Angklung, dimainkan oleh 15 orang dan dilaksanakan pada waktu khitanan massal

Sistem Kemasyarakatan Kampung Naga
Kemasyarakatan di Kampung Naga masih sangat lekat dengan budaya gotong royong, hormat menghormati, dan mengutamakan kepentingan golongan diatas kepentingan pribadi. Dimana system kemasyarakan ini dibagi menjadi dua sistem, yaitu system lembaga pemerintahan dan lembaga adat.
Lembaga pemerintahan yang terdapat di kampung Naga terdiri dari lembaga-lembaga sebagaimana kampong-kampung yang lain, seperti RW, RT, Kudus (Ketua Dusun), dan lain lain. Sedangkan lembaga adat terdiri dari Kuncen, lunduh, dan Lebe. Kuncen bertugas pemangku adat dan memimpin upacara adat dalam berziarah dan Lebe bertugas mengurusi jenazah dari awal sampai akhir sesuai dengan syariat islam. Peran kedua lembaga ini bersinergi untuk tujuan keharmonisan warga Sanaga. Sang Kuncen yang meski begitu berkuasa dalam hal adat istiadat, akan taat dan patuh pada RT atau RW jika berhubungan dengan system pemerintahan desa. Begitupun sebaliknya RT atau RW juga akan  taat pada sang Kuncen apabila berurusan dengan adat istiadat dan kehidupan rohani penduduk Kampung Naga.

Sistem Politik
Masyarakat kampong Naga menyelesaikan segala masalah yang ada dengan bermusyawarah. Begitu juga dalam hal politik; pemilihan ketua RT, RW, kuncen, mereka akan bermusyawarah sehingga menghasilkan keputusan yang dapat diterima semua warga, demokratis, dan terbuka.

Sistem Hukum
Seperti kebanyakan kampung adat lainnya, masyarakat kampong Naga juga memiliki aturan hukum sendiri yang  tak tertulis namun masyarakat sangat patuh akan keberadaan aturan tersebut. Kampung Naga memiliki Larangan namun tidak memiliki banyak aturan. Prinsip yang mereka anut adalah Larangan, Wasiat dan Akibat.
System Hukum kampung adat berlandaskan pamali, yaitu suatu ketentuan yang telah ditentukan oleh nenek moyang Kampung Naga yang tidak boleh dilanggar. Sanksi yang diperoleh untuk si pelanggar tidaklah jelas, karena mereka percaya bahwa siapa yang melanggar larangan, maka dia sendiri yang medapat akibatnya. Pamali bagi masyarakat kampong Naga masih patuh dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari, seperti tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Pernikahan
Upacara perkawinan diadakan setelah akad nikah. Adapun tahap-tahap upacara tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngamparmunjungan. (berhamparan), dan diakhiri dengan do’a.
Secara detailnya yaitu upacara penyaweran dilakukan selesai akad nikah,kedua pelai pengantin dipayungi sedankan tukang sawer berdiri di hadapan kedua pengantin. Panyawer sembari mengucapkan ijab kabul, saat prosesi penyaweran sang  penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, dan uang logam ke arah pengantin. Setelah upacara sawer dilanjutkan dengan upacara nincak endog.endog (telur) disimpan di atas golodog dan mempelai laki-laki menginjaknya. Kemudian mempelai perempuan mencuci kaki mempelai laki-laki dengan air kendi. Dan dilanjutkan acara buka pintu dan sungkeman ke seluruh keluarga dan kerabat baik dari pihak perempuan ataupun laki-laki.

KESIMPULAN
Badui dan masyarakat Naga adalah merupakan contoh suku asli di pulau Jawa yang terkenal sebagai suku bangsa yang berpegang teguh pada adat istiadat dan sistem kepercayaan asli nenek moyangnya. Contohnya dalam menjalankan kehidupan dengan pakaian adatnya, upacara adat, serta prosesi sacral pernikahan yang mengikuti tradisi nenek moyang mereka sampai saat ini. Meskipun demikian kedua suku diatas memegang teguh budayanya dan sama berbahasa sunda namun mereka memiliki banyak perbedaan salah diantaranya yaitu suku Baduy tidak mau menerima apapun yang berhubungan dengan modernisasi dan menganut agama ethnis, tetapi Naga masih menerima perbedaan( willing open) dan kepercayaan yang dipegangnya bukan agama ethnis.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Syukur dkk, Ensiklopedia Umum untuk Pelajar paket 2, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoev
Hidayah, Zulyani. Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia, 1997. Jakarta: PT.Pustaka LP3ES Indonesia
Kurnia, Asep. Ahmad Sihabuddin, 2010. Saatnya Baduy Bicara. Jakarta: Bumi Angkasa
Www.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes.com. http://info.indotoplist.com/?YldWdWRUMWtaWFJoYVd3bWFXNW1iMTlwWkQweU5qVT0
http://aristastar21.wordpress.com/makalah-kebudayaan-masyarakat-kampung-naga-2/
http:// humaspdg.wordpress.com/2010/05/…/menelusuri-kebudayaan-baduy.com. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/…/adat-istiadat-yg-membelenggu-kebud.com.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...