Selasa, 26 Mei 2020

“Berdamai” dengan Corona, apa bisa?


Oleh: Abd Misno Mohd Djahri


 Pandemi Virus Corona telah menyisakan kesusahan yang berkepanjangan bagi umat manusia, hingga putus asa kadang terbersit di jiwa. Sudah lewat tiga bulan, sejak virus ini ditemukan di Wuhan kini menyisakan kata “Berdamai dengan Corona”. Sebuah kalimat yang menggambarkan keputusasaan, keprihatinan dan secercah harapan untuk menerima sebuah kenyataan. Walaupun kata “berdamai” sedikit dipolitisir sehingga menjadi kontroversi di tengah masyarakat.
“Berdamai” dengan Corona sejatinya bukan dalam makna yang sebenarnya. Ia adalah ungkapan yang menggambarkan bahwa kita sebagai umat manusia yang saat ini tengah berada dalam wabah Corona harus berani untuk menerimanya sebagai sebuah fakta. Berusaha terus untuk mencari obat penawarnya, serta hidup dengan protocol (aturan) yang dapat menghindar dari terpapar oleh virus Corona.
Apakah bisa “berdamai” dengan Virus Corona? Jawabannya tentu saja bisa. Menerapkan The New Normal (kebiasaan baru) dalam kehidupan berupa menjaga kesehatan, cuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan adalah beberapa contoh kebiasaan baru yang harus dijalankan. Mengurangi segala bentuk interaksi secara langsung dengan manusia, utamanya mereka yang berasal dari “Zona Merah”, yaitu kawasan yang masyarakatnya banyak terinfeksi virus ini.
Pengembangan tekhnologi informasi dan komunikasi sangat membantu dalam upaya menjaga jarak dan mengurangi interaksi ini. Work from Home (bekerja dari rumah), belajar dari rumah, dan melakukan aktifitas dari rumah menjadi solusi yang memerlukan kecanggihan tekhnologi ini. Walaupun di Indonesia masaih terlalu banyak hambatan, tetapi ini adalah salah satu jalan keluar. Maka, “berdamai” dengan Corona dapat dilakukan dengan cara ini.
Kebiasaan baru ini memang belum biasa saat ini, tapi pada satu masa nanti masyarakat akan mau menerimanya dan terbiasa dengannya. Demikian pula aktifitas lainnya seperti belajar secara daring, di mana banyak lembaga pendidikan yang sudah menerapkannya saat ini. Kalaupun ada pertemuan, hanya dilakukan dengan terbatas dan sesuai protocol yang ketat. Sehingga kegiatan dapat dilaksanakan, serta dampak negatif dari aktifitas ini dapat dihindarkan.
Belanja secara online saat ini sudah mulai dibiasakan, berbagai kendala ke depan akan segera dihilangkan. Membeli makanan atau pakaian yang tidak dapat dicoba tentu saja bisa dicari solusinya, garansi atas makanan yang dibeli bisa dilakukan dalam pembelian online. Lebih dari itu adalah etika berjualan berupa kejujuran dalam menjual menjadi hal yang harus diperhatikan oleh para pedagang. Sehingga kenyamanan dalam berbelanja secara daring ke depan akan menjadi kenyamanan bagi masyarakat.
“Berdamai” dengan Corona memang sudah selayaknya dilakukan. Sekali lagi bukan dalam makna bahasa, tetapi makna kiasan berupa kehidupan yang harus siap berhadapan dengan makhluk kecil ini ciptaan Ar-Rahmaan. berusaha menghindari dengan gaya hidup Islami adalah solusi sejati bagi kehidupan umat manusia di bumi ini dan akhirat nanti.



1 komentar:

Please Uktub Your Ro'yi Here...