Selasa, 12 Mei 2020

Tak Ada yang Sempurna


Oleh: Misno Mohammad Djahri


Kebijaksanaan hidup bukanlah sesuatu yang didapatkan bersama dengan bertambahnya usia. Ia adalah hasil dari sebuah perjalanan intelektual dan juga rasa jiwa, ya... kebijaksanaan yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana seseorang untuk bisa memahami keadaan orang lain. Memahami dalam makna menerima kelebihan dan kekurangannya, karena sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa setiap manusia itu pernah berbuat kesalahan. Maknanya bahwa memang manusia tidak ada yang sempurna.
Memahami kekurangan orang lain adalah sebuah keniscayaan dalam rumah tangga, setiap pasangan harus memahami bahwa pasangannya itu memiliki kelebihan sekaligus juga kekurangan. Seseorang yang memiliki wajah yang cantik pasti akan memiliki kekurangan pada sisi lainnya. Demikian pula orang yang sholeh atau sholehah akan ada sisi kehidupannya yang menjadi kekurangannya.
Hal ini terjadi juga dalam dunia persahabatan, jika kita mengharapkan memiliki seorang teman yang tidak memiliki kekurangan tentu saja tidak akan kita dapatkan. Bahkan setiap teman dan shahabat memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Tinggal bagaimana kita dapat menyikapi kekurangan dari teman-teman kita.
Pengetahuan bahwa semua orang itu tidak sempurna sudah sangat kita pahami, namun seringkali pemahaman ini tertutup dengan berbagai keinginan yang mengahrapkan pasangan atau sahabat kita sesuai yang kita inginkan. Ya, terkadang pengetahuan bahwa manusia tidak ada yang sempurna hanya di bibir saja. Ketika seseorang melakukan kesalahan dengan mudah kita mengeluarkan sumpah serapah, bahkan tidak jarang mengucilkannya. Lantas bagaimana sebenarnya praktik dari pegetahuan ini?
Tak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang mulia. Semua orang punya kekurangan, dan kewajiban kita untuk memahaminya. Jangan pernah berharap orang lain itu akan sama atau sesuai dengan diri kita. Karena hal ini tidak akan pernah terjadi, setiap orang punya ibadah khas yang berbeda-beda jangan paksakan ia harus sama dengan diri kita. Demikian juga setiap orang punya kekurangan atau kesalahan yang mungkin ia lakukan, maka introspeksi diri bahwa kita juga banyak kekurangan adalah sebuah kebijaksanaan.
Tentu saja hal ini bukan berarti menghilangkan amar ma’ruf nahi mungkar, selama hal itu bukan merupakan sesuatu yang haram maka berilah ruang untuk sebuah kebebasan. Pun demikian jika memang itu adalah perbuatan haram, nasehat yang berterusan dan menasehatinya dengan kelembutan adalah jalan yang diharapkan. Menjauhinya, mencelanya atau mungkin menghukumnya pada dasarnya bukanlah sebuah tuntunan. Tugas kita adalah menyampaikan, setelah itu maka diserangkan kepada yang bersangkutan.
Teruslah belajar untuk memahami kekurangan orang lain, jangan pernah menginginkan orang lain sama dengan kata. Apalagi pada hal-hal yang sifatnya bukan keharusan agama, karena setiap orang punya ibadah khas yang akan menghantarkan ke jannahNya. Berusahalah terus untuk introspeksi diri, jangan mencari-cari kesalahan orang lain karena kesalahan diri sudah sangat menyibbukkan kita.
Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah Ta’ala. Pasangan kita, teman, handai taulan dan semua manusia di semesta ini tidak ada yang sempurna. Maka memahami setiap kekurangan mereka, berfikir lebih terbuka dan terus berusaha menjadi pribadi yang mengedepankan pemahaman kemanusiaan yang membawa kepada Islam yang rahmatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...