Biografi Ibnu Jarir Al-Thabari

on Kamis, 12 April 2012

Oleh : Ahmada ZAki Mubarak


Potret Kehidupan Awal
Beliau mempunyai nama lengkap Abu Ja'far Muhanmmad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Galib al-Thabari al-Amuli.2 Nama ini disepakati oleh al-Khatib al-Bagdadi[1] (392-463/1002-1072), Ibn Katsir dan al-Zahabi.
Tanah kelahirannya di kota Amul, ibukota Tabaristan Iran,[2] sehingga nama paling belakangnya sering disebutkan al-Amuli —penisbatan tanah kelahirannya— sebagaimana kelaziman dalam tradisi Arab, semisal al-Bukhari (dari Bukhara), al-Bagdadi (dari Bagdad), dan sebagainya. Ia dilahirkan 223 H (838-839 M),[3] sumber lain menyebutkan akhir 224 H atau awal 225 H (839-840),[4] dan meninggal 311/923,[5] dan informasi lain discbutkan pada 310.[6]
Al-Thabari hidup, tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang memberikan cukup perhatian terhadap masalah pendidikan terutama bidang keagamaan. Berbarengan dengan situasi Islam yang sedang mengalami kejayaan dan kemajuannya di bidang pemikiran. Kondisi sosial yang demikian itu secara psikologis turut berperan dalam membentuk kepribadian al-Thabari dan menumbuhkan kecintaannya terhadap ilmu. Iklim kondusif seperti itulah secara ilmiah telah mendorongnya untuk mencintai ilmu semenjak kecil.
Setelah menempuh pendidikan di kota kelahirannya, menghafal al-Qur'an dimulai-nya sejak usia 7 tahun, melakukan pencatatan al-Hadis dimulainya sejak usia 9 tahun. Integritasnya tinggi dalam menuntut ilmu dan girah untuk melakukan ibadah, dibuk-tikannya dengan melakukan safari ilmiah ke berbagai negara untuk memperkaya pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu.

Karir Intelektualnya
Menelusuri jejak kehidupan intelektual seseorang dalam wilayah akademik meru­pakan aspek penting dalam kajian atau penelitian seorang tokoh sebelum melihat lebih jauh produk akademik yang dikontribusikan. Produk paling konkret di bidang akademik adalah karya ilmiah dalam bentuk tulisan buku yang merupakan representasi dari atmosfir nalarnya.
Al-Thabari, secara kultural-akademik termasuk 'makhluk yang beruntung', jika dilihat setting sosial yang  diwarnai oleh kemajuan sivilisasi Islam dan berkembangnya  pemikiran ilmu-ilmu keislaman (Islamic Thought) pada abad III hingga awal abad IV H. Tentu saja, sangat berpengaruh secara mental maupun intelektualnya. Hampir-hampir sulit kita terima, bahwa al-Thabari di usianya yang ketujuh telah mampu menghafalkan al-Qur'an, schingga mengantarkan menjadi Imam shalat pada usia 8 tahun. Hasil tempaan dan gemblengan orang tua (terutama ayahnya) meninggalkan goresan intelektual yang kuat, hingga waktu yang lama.
Karir pendidikan diawali dari kampung halamannya—Amul— tempat yang cukup kondusif untuk membangun struktur fondamental awal pendidikan al-Thabari, ia diasuh oleh ayahnya sendiri, kemudian dikirim ke Rayy, Basrah, Kufah, Mesir, Siria dan Mesir dalam rangka " travelling in quest of knowledge" (ar-rihlah talab aJ'iJm) dalam usia yang masih belia. Sehingga namanya bertambah populer di kalangan masyarakat karena otoritas keilmuannya.[7] Di Rayy ia berguru kepada Ibn Humayd, Abu Abdallah Muhammad bin Humayd al-Razi, disamping ia juga menimba ilmu dari al-Musanna bin Ibrahim al-Ibili, khusus di bidang hadis. Selanjutnya ia menuju Bagdad berekpetasi untuk studi kepada Ahmad bin Hanbal (164-241/7780-855), ternyata ia telah wafat, kemudian scgera putar haluan menuju dua kota besar Selatan Bagdad, yakni Basrah dan Kufah, sambil mampir ke Wasit karena satu jalur perjalanan dalam rangka studi dan riset. Di Basrah ia berguru kepada Muhammad bin ' Abd al-A'la al-Shan'ani (w. 245/859), Muhammad bin Musa al-Harasi (w. 248/862) dan Abu al-As'as Ahnmad bin al-Miqdam (w. 253/867), disamping kepada Abu al-Jawza' Ahmad bin Usman (w. 246/860). Khusus bidang tafsir ia berguru kepada seorang Basrah Humayd bin Mas'adah dan Bisr bin Mu'az al-'Aqadi (w. akhir 245/859-860), meski sebelumnya pemah banyak menyerap pengetahuan tafsir dari seorang Kufah Hannad bin al-Sari (w. 243/857).[8]
Setelah beberapa waktu di dua kota tersebut, ia kembali ke Bagdad dan menetap untuk waktu yang lama, dan masih concern bidang qira'ah, fiqh dengan bimbingan guru, seperti Ahmad bin Yusuf al-Sa'labi, al-Hasan ibn Muhammad al-Sabbah al-Za'farani dan Abi Sa'id al-Astakhari.[9] Belum puas dengan apa yang telah ia gapai, berlanjut dengan melakukan kunjungan (visiting) ke berbagai kota untuk mendapatkan nilai tambah (added  value) baginya, terutama pendalaman gramatika, sastra (Arab) dan qira'ah—Hamzah dan Warasy— (yang masih populer di kalangan qurra 'hingga saat ini), yang telah memberikan kontribusi kepadanya, tidak saja dikenal di Baghdad, tetapi juga di Mesir, Syam, Fustat, dan Beirut. Dorongan kuat untuk menulis kitab tafsir diberikan oleh salah seorang gurunya Sufyan ibn 'Uyainah dan Waki' ibn al-Jarah,[10] disamping Syu'bah bin al-Hajjaj, Yazid bin Harun dan 'Abd ibn Hamid.[11]
Kota Bagdad, menjadi domisili terakhir al-Thabari, sejumlah karya telah berhasil ia telorkan dan akhirnya ia wafat pada Senin, 27 Syawwal 310 H bertepatan dengan 17 Fcbruari 923M dalam usia 85 tahun. Kematiannya disalati oleh masyarakat siang dan malam hari hingga beberapa waktu setelah wafatnya.[12]


[1] Lihat al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad (Beirut : Dar l-Fikr, t.th), hlm.
[2] Sebuah kota di Iran, 12 km ada yang menyebutkan 20 km sebelah Selatan Laut Kaspia. daerah yang penduduknya suka konflik (berperang), dan biasanya alat yang digunakan adalah Tabar (kapak), sebagai senjata tradisional untuk menghadapi musuh. Itulah sebabnya nama panggilan lebih dikena) dengan sebutan
al-Tabari,yang diambilkan dari nama"kultural"-nya.
[3] Yaqut al-Hamawi, Mu'jamal-Udaba xviii, dikutip melalui Rasul Ja'farian dalam jurnal al-Hikmah,
Syawwal Zulhijjah 1413/April-Juni 1993, 109 bandingkan dengan Bakar Isma'il, Ibn Jarir al-Tabari.., hlm. 12.
[4] Tampaknya para ahli sejarah berbeda dalam menentukan tahun kelahirannya oleh karena ada sistem penanggalan yang berbeda yang berlaku saat itu, bersifat tradisional dengan bersandar pada peristiwa-peristiwa penting bukan angka. Lihat Muhammad Bakr Ismail, Ibn Jarir…, hlm. 10. bandingkan Bandingkan Franz Rosenthal, The History of al-Tabari , Vol. I (New York : State University of New york Press, 1989), hlm. 11
[5] Mohammed Arkoun, Rethingking Islam: Common Questions, Uncommon Answers, terj. Yudian W. Asmin Lathiful Khuluq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 65
[6] Menurut catatan Muhammad Aly al-Shabuny dalam PengantarStudy al-Qur'an Terj. Chudlori Umar dan Moh. Matsna HS. (Bandung: al-Ma'arif, 1984), hlm. 257. Selengkapnya lihat Franz Rosenthal. The History…, hlm. 178.
[7] Rosenthal, The History…, hlm. 78
[8] Masih banyak nama-nama guru, seperti Isma'il bin Musa al-Fazari (w. 245/859) di bidang qira'ah belajar kepada Sulaiman bin 'Abd al-Rahman bin Hammad al-Talhi (w. 252/866), Abu Kurayb Muhammad bin al-'Ala, seorang Kufah (w. 247 atau 248/861-862) dan bidang yang lain pun ditekuni, karena al-Tabari disamping menekuni Hadis, Fiqh (baca; Syafi'i), tafsir juga menekuni qira'ah (Qur'an reading) dan sejarah, lihat Rosenthal, Ibid., 19
[9] Bakr Ismail, Ibn Jarir…, hlm. 25
[10] Subhi al-Salih, Mabahis fi 'Ulum al-Qur'an (Beirut :  Dar al-'Ilm lil al-Malayin, cet. VII, 1972), 290.
[11] Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an, Tahqiq Muhammad Abu al-Fadl Ibrahim Jld. II (Dar al-lhya' al-Kutub al-'Arabiyah, I376H/I957M), hlm.159
[12] Rosenthal, The History…, hlm. 78

0 comments:

Poskan Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...