Minggu, 08 April 2012

Epistemologi dan Filsafat Islam


Oleh : Abdurrahman Misno


Pendahuluan
Filsafat Islam adalah dua buah term yang berpadu menjadi satu istilah baru yang bermakna filsafat yang Islami. Dua term yang berbeda bila dilihat dari segi sumbernya, namun akan memiliki korelasi ketika berkaitan dengan kepentingan manusia. Hal ini terjadi karena baik filsafat ataupun Islam mendambakan sebuah kemaslahatan dan menjawab setiap problem yang dihadapi oleh manusia.
Filsafat sebagai hasil dari olah rasa yang didukung oleh logika menghasilkan sebuah kebenaran yang dapat diindrai oleh manusia. Sedangkan Islam sebagai aturan yang datang dari Allah ta'ala juga diturunkan kepada manusia yang menghadirkan kebenaran absolut. Tujuan keduanya adalah terciptanya kehidupan manusia yang ideal.
Epistemologi Islam sebagai bagian dari filsafat Islam berkaitan erat dengan bagaimana ilmu pengetahuan dalam Islam itu diperoleh, sehingga jika berkaitan dengan Islam maka ia memiliki beberapa sumber ilmu pengetahuan.

Pengertian Epistemologi Islam
Sebagaimana diketahui bahwa epistemologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari hakikat ilmu pengetahuan, baik asal-usul, kebenaran dan sifat serta asumsi dasar ilmu pengetahuan. 

Pengertian Filsafat  Islam
Filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hubungan anatara keduanya adalah bahwa filsafat merupakan induk bagi epistemologi, selain juga induk bagi axiologi dan ontologi. Sebagai sebuah ilmu yang didasarkan pada panca indra, baik epistemologi maupun filsafat menisbatkan diri kepada kebenaran relatif.  Sehingga setiap apa saja yang berlaku hari ini, bisa jadi besok akan basi oleh teori lainnya.
Islam adalah sebuah agama yang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala disampaikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Salam melalui perantara malaikat Jibril sebagai peraturan bagi seluruh umat manusia.
الإستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله
"Penyerahan diri kepada Allah ta'ala serta tunduk dengan penuh ketaatan serta berlepas diri dari syirik dan para pelakunya." (Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin : 2004).
Dari pengertian mengenai epitemologi, filsafat dan Islam kita dapat menarik kesimpulan bahwa ketiganya adalah sebuah term yang terkadang saling bertentangan dan seringkali pula memiliki beberapa kesamaan.

Kedudukan Epistemologi dan Filsafat Islam
Bagaimana jika Islam yang berasal dari tanah Arab dan bersumber dari Allah ta'ala bertemu dengan filsafat dan epistemologi yang bersumber dari akal pikiran manusia ? "When West Meet East" itulah yang terjadi.
Ketika keduanya bertemu, maka pergesekanpun terjadi, dari mulai gesekan lembut hingga konfrontasi antara keduanya. Sehingga sebagian umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok dalam menyikapi filsafat ini.
Kelompok pertama menolak mentah-mentah apa yang disebut dengan filsafat. Mereka berargumen bahwa filsafat adalah sebuah pemikiran yang berasal dari luar Islam dan bersumber hanya dari rasio saja. Di anatara tokoh yang menolaknya adalah : Imam Abu Hanifah An-Nu'man, Abu Al-Faraj bin Al-Jauzi, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyah dan ulama salaf lainnya.
Kelompok kedua menolak filsafat pada hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan saja. Mereka berpendapat bahwa pada dasarnya filsafat jika tidak berkaitan dengan masalah ketuhanan maka diperbolehkan untuk dipelajari, karena hal itu akan menguatkan dalil-dalil dalam Islam. Di anatara tokoh yang mencoba mengabungkan antara Islam dengan filsafat adalah Al-Farabi, Ikhwan Shafa, Imam Al-Ghazali dan yang lainnya.
Kelompok ketiga yaitu mereka yang menerima secara bulat-bulat filsafat. Mereka tidak lagi melihat apakah ada mudharat atau manfaat dari filsafat tersebut. Paham yang jelas dari mereka adalah kelompok Liberal yang melihat bahwa kebenaran itu relatif dan bukan milik salah satu kelompok atau agama saja, sehingga menurut mereka baik filsafat maupun Islam memiliki kebenarannya masing-masing. Selain berpaham liberal mereka juga mengusung ide pluralisme agama yang menganggap bahwa semua agama itu benar.
Golongan kedua sepertinya lebih adil, karena filsfat yang dimaksud adalah filsafat yang berkaitan dengan bagaimana seseorang itu mengetahui hakikat dari kehidupan ini. Sejatinya ilmu apapun, ketika ia tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam, maka hal itu diperbolehkan untuk dipelajari.
Sejatinya, Islam sangat terbuka menerima hal-hal yang berhubungan dengan teknik atau teori-teori yang bukan merupakan prisnsip dasar bagi agama Islam. Maka ketika filsafat tidak merugikan Islam ia bisa menjadi bagiannya.
Hanya ada kesalahpahaman pada sebagian umat yang menganggap bahwa filsafat adalah haram, mereka berpendapat demikian karena filsafat seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat prinsip dan telah ada di dalam Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...