Jumat, 27 Mei 2011

Tujuan Pendidikan Islam


a. Pengertian tujuan pendidikan Islam yang dimaksud dengan tujuan adalah sesuatu yang diharapkan dapat tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan itu selesai. Sedangkan pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan tertentu. Karena pendidikan terlaksana dalam tahapan tertentu itu. Maka pendidikan tentu saja memiliki tujuan yang bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang statis, tetapi tujuan itu merupakan keseluruhan dari kepribadian seseorang yang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya. Menurut Hasan Langgulung mengkaji tentang tujuan pendidikan tidak akan lepas dari pembahasan mengenai tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah satu alat yang digunakan manusia untuk memelihara kelangsungan hidupnya baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.[1]
Menurut Al-Ghazali pendidikan dan pengajaran harus diusahakan untuk mencapai dua tujuan diantaranya yang pertama, usaha pembentukan insan paripurna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan kedua, insan paripurna yang bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup manusia baik di dunia maupun diakhirat. Atas dasar itu, maka tujuan pendidikan Islam harus diarahkan pada dua sasaran pokok pendidikan, diantaranya yang pertama, aspek-aspek ilmu pengetahuan yang harus disampaikan kepada murid, kedua, penggunaan metode yang relevan untuk menyampaikan kurikulum atau silabus sehingga dapat memberikan pengertian yang sempurna dan memberikan faedah yang besar tentang penggunaan metode tersebut bagi ketercapaian tujuan pendidikan Islam.[2]
Menurut Muhammad Omar al-Toumy al-Syaibany tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-Karimah.[3]
Tujuan ini sama dan sebangun dengan tujuan yang akan dicapai oleh misi kerasulan, yaitu “membimbing manusia agar berakhlak mulia”. Kemudian akhlak mulia ini, diharapkan tercermin dari sikap dan tingkah laku individu dalam hubungannya dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia dan sesama makhluk allah serta lingkungannya. Dengan demikian nampak bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah ma’rifatullah dan bertaqwa kepada Allah. Sedangkan ma’rifat (mengetahui) diri, masyarakat dan aturan alam ini tidak lain hanyalah merupakan sarana yang menghantarkan manusia ke ma’rifatullah. Menurut Abdul Fattah Jalal tujuan umum pendidikan Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah SWT. Jadi menurut Islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah, yakni beribadah kepada Allah SWT, karena Islam menghendaki manusia di didik mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagimana yang telah digariskan Allah SWT.
Tujuan hidup manusia menurut Allah ialah beribadah kepadaNya, sebagimana yang terdapat dalam surat al-Dzariyat ayat : 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.[4]
Sedangkan al-Abrasy merumuskan tujuan umum pendidikan Islam menjadi lima pokok diantaranya yang pertama, pembentukan akhlak mulia; kedua, persiapan untuk dunia dan akhirat; ketiga, persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi manfaatnya; keempat menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajaran dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri, dan kelima, mempersiapkan pelajaran untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rizki.[5]
Sedangkan tujuan khusus pendidikan Islam menurut Zakiah Darajat merumuskan enam tujuan khusus diantaranya yaitu: pertama, pembinaan ketakwaan dan akhlakul karimah,; kedua, mempertinggi kecerdasan kemampuan anak didik; ketiga memajukan IPTEK beserta manfaat dan aplikasinya; keempat, meningkatkan kualitas hidup; kelima memelihara dan meningkatkan budaya serta lingkungan; keenam memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang berkomunikasi terhadap keluarga, masyarakat dan lingkungan.[6]
Adanya rincian tujuan umum pendidikan menjadi tujuan khusus itu pada tahap selanjutnya akan membantu merancang bidang-bidang pembinaan yang harus dilakukan dengan kegiatan pendidikan, seperti adanya bidang pembinaan yang berkaitan dengan aspek jasmani, aspek akidah, aspek akhlak, aspek kejiwaan, aspek keindahan, aspek jasmani dan aspek kebudayaan. Masing-masing bidang pembinaan ini pada tahap selanjutnya disertai dengan bidang-bidang studi atau mata pelajaran yang berkaitan dengannya untuk pembinaan jasmani misalnya terdapat bidang studi mengenai olahraga atau latihan fisik dan juga untuk pembinaan akal terdapat mata pelajaran yang berkaitan dengan seperti pelajaran matematika. Sedangkan mata pelajaran tersebut juga memiliki tujuan yang selanjutnya dikenal dengan istilah tujuan perbidangan studi.
Dari tujuan perbidangan studi ini selanjutnya ditujukan pada tujuan perpokok bahasan.  Dari tujuan perpokok bahasan akan dirinci lagi mejadi sub pokok bahasan yang selanjutnya dikenal dengan istilah tujuan perkalian kegiatan belajar mengajar, misalnya terdapat sub pokok bahasan mengenai perkalian biasa dan perkalian biasa ini memiliki tujuan. Tujuan yang terkenal ini biasanya dituangkan dalam program satuan pelajaran (SATPEL). Kumpulan dari tujuan di atas pada akhirnya akan diarahkan untuk mencapai tujuan umum atau tujuan akhir.[7]
Ciri dan karakteristik tujuan pendidikan Islam Menurut Omar Muhammad al-Taumy al-Syaibani, tujuan pendidikan Islam memiliki beberapa ciri diantaranya adalah prinsip menyeluruh (universal) yakni pandangan yang menyeluruh kepada agama, manusia, masyarakat dan kehidupan. Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan yakni bermacam-macam pribadi seseorang dengan kehidupannya dan juga pada kehidupan masyarakat, antara perumusan kebutuhan masa silam dengan kebutuhan masa kini dan berusaha untuk mengatasi masalahnya dan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan masa depan. Prinsip kejelasan yakni jelas dalam prinsip-prinsip ajaran-ajaran dan hukum-hukumnya. Serta memberi jawaban yang jelas dan tegas kepada jiwa dan akal manusia pada segala tantangan dan kritis. Prinsip tidak ada pertentangan, yakni ketidakadaan pertentangan antara berbagai unsurnya, dan antara unsur-unsur itu dengan cara-cara pelaksanaannya. Prinsip realisme dan dapat dilaksanakan yakni bersifat realistis dan jauh dari khayal dan berlebih-lebihan, praktis dan realistis sesuai dengan fitrah manusia, sejalan dengan suasana, kesanggupan yang dimiliki oleh indivdu dan masyarakat. Prinsip perubahan yang diinginkan yakni perubahan yang meliputi pengetahuan, konsep, pikiran, kemahiran, nilai-nilai, adat kebiasaan, dan sikap pelajaran sejalan dengan proses perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan masyarakat sesuai dengan ridho Allah.[8]
Prinsip menjaga perbedaan-perbedaan perorangan yakni memperhatikan perbedaan-perbedaan, ciri-ciri, kebutuhan-kebutuhan, tahap kecerdasan, kebolehan-kebolehan, minat, sikap dan tahap kematangan jasmani, akal, emosi, sosial dan segala perkembangan dan aspek-aspek pribadi dan yang terakhir yakni prinsip dinamisme dan menerima perubahan dan perkembangan dalam rangka metode-metode keseluruhan yang terdapat dalam agama. Untuk mencapai tujuan utama yang di cita-citakan umat Islam, maka tujuan pendidikan Islam harus memiliki karakteristik yang ada kaitannya dengan sudut pandang tertentu. Secara garis besarnya tujuan pendidikan Islam dapat dilihat dari tujuan dimensi utama yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya adalah sebagai berikut:
Pertama, dimensi hakikat penciptaan yang bertujuan untuk membimbing perkembangan peserta didik secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah yang setia; kedua, dimensi tauhid yang diarahkan kepada upaya pembentukan sikap takwa; ketiga, dimensi moral pada dimensi ini manusia dipandang sebagai individu yang memiliki potensi fitriyah; keempat, dimensi perbedaan individu secara umum manusia memiliki sejumlah persamaan.
Namun di balik itu sebagai individu, manusia juga memiliki berbagai perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya; kelima dimensi sosial yang mengacu kepada kepentingan sebagai makhluk sosial yang didasarkan pada pemahaman bahwa manusia hidup bermasyarakat; keenam, dimensi profesional, manusia diharapkan dapat menguasai keterampilan profesional agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya; ketujuh, dimensi ruang dan waktu, yaitu di mana dan kapan. Secara garis besarnya tujuan yang harus dicapai pendidikan Islam harus merangkum semua tujuan yang terkait dalam rentang ruang dan waktu tersebut.[9]
Rumusan tujuan akhir pendidikan Islam telah disusun oleh para ulama dan ahli pendidikan Islam dari golongan dan madzhab dalam Islam, diantaranya adalah pertama, rumusan yang ditetapkan dalam kongres sedunia tentang pendidikan Islam, rumusan ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial yang menghamba kepada khaliknya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agamanya.[10]
Oleh karena manusia yang bulat melalui latihan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indra. Pendidikan ini harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmani ilmiah maupun bahasanya dan pendidikan ini mendorong semua aspek ke arah pencapaian kesempurnaan hidup.


[1] Samsul Ulum dan Triyo Supriyanto, Tarbiyah Qur'aniyyah, (Malang: UIN Press, 2006), 55
[2] Sama’un Bakry, Mengajar Konsep Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), 32
[3] Jalaluddi, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 92
[4] Abdul Fatah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), 121
[5] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), 107
[6] Imam Bawani dan Isa Ansori, Cendekiawan Muslim, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1991), 90-91
[7] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pranata, 2005), 109-110
[8] Sama’un Bakry, Mengajar Konsep Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), 40
[9] Jalaluddi, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 93-101
[10] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...