Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Kriminalitas Di Kalangan Anak

on Rabu, 30 Maret 2011
Abdurrahman, M.E.I


A.      Pendahuluan
Tindakan Kriminal (kejahatan) ternyata tidak hanya dominasi orang dewasa, anak-anakpun kini telah melakukannya. Bahkan perkembangan lima tahun terakhir menunjukan tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak semakin meningkat. Penelitian ini memfokuskan pada faktor dominan apa saja yang mempengaruhi anak-anak berbuat kriminal.
Penelitian ini dilaksanakan terhadap napi anak di Lapas anak Tangerang, Rutan Bandung dan Lapas Sukabumi pada bulan Agustus sampai Desember  2010. Sebagai data primer, diambil sebanyak 105 responden anak laki-laki dari 198 yang ada (53%) dan 11 responden anak perempuan (100%) dengan rincian pria di Tangerang 49 dari 170, wanita di Tangerang 9 (seluruhnya), pria di Sukabumi 36 (seluruhnya), wanita di Sukabumi 2 (seluruhnya), dan pria di Bandung 20 dari 28 yang ada. Seluruh responden pria adalah Napi, sedangkan dari Lapas Wanita, 4 anak dalam status tahanan dan 5 Napi. Responden wanita dari Lapas Sukabumi adalah 1 tahanan dan 1 Napi. Keterbatasan data untuk wanita menyebabkan seluruh anak wanita dijadikan responden. Di samping itu, jawaban mereka atas pertanyaan terutama yang menyangkut faktor pendorong berbuat kejahatan, semua memberikan alasan.  Oleh karena itu derajatnya dapat disamakan dengan Napi. Dalam penyajian data, seluruh (38) responden Sukabumi yang dimaksud adalah termasuk 2 responden wanita.
Data bulan Agustus menunjukkan bahwa untuk wilayah Jawa Barat, secara umum (terutama dewasa) kejahatan didominasi oleh kasus narkoba, secara berturut-turut diikuti oleh pencurian, kekerasan terhadap anak, penipuan, perampokan, kejahatan psikotropika dan penggelapan. Pada usia anak, di antara 16 jenis kejahatan penting pada tahanan dan Napi anak didominasi oleh pencurian (119), perampokan (25), narkotika (23), pelanggaran ketertiban (19), perkelahian (11) dan asusila (11) yang andilnya berturut-turut sebesar 4%, 2,7%, 0,5%, 4,4%, 2% dan 2,5% dari seluruh pelaku.  

B.       Hasil Penelitian : Faktor-faktor pendorong kejahatan pada anak
Di antara kondisi individu yang memicu terjadinya kejahatan yang diperkirakan (ekonomi, hobi, kurang pembinaan, dendam), ternyata menghasilkan jawaban yang beragam dan faktor lain yang tak terduga dan meragukan penggolongannya (Tabel 6). Tiga alasan pribadi pemicu terpenting untuk Sukabumi (81,5%) adalah kurang pembinaan (44,7%), ekonomi dan salah pergaulan (masing-masing 18,4%), Bandung (80%) adalah dendam (35%), ekonomi, kurang pembinaan dan ketidaksengajaan (masing-masing 15%), pria Tangerang (71,5%) adalah ekonomi (28,6%), kurang pembinaan (24,5%) dan salah pergaulan (18,4%), serta wanita Tangerang mengaku salah pergaulan (55,6%), ekonomi dan tidak mengaku (masing-masing 22,2%), sedangkan 2 wanita Lapas Sukabumi mengaku akibat penipuan teman. Ini berarti korban pergaulan tetap dominan (63,6%).
Dari angka-angka di atas ekonomi dijadikan alasan utama oleh responden pria Tangerang, kurang pembinaan oleh responden Sukabumi, dendam oleh responden pria di Bandung, salah pergaulan oleh responden pria dan responden wanita Tangerang. Responden pria Tangerang yang sebagian besar keluarganya bermatapencaharian sebagai buruh dan miskin mengaku uang sakunya cukup  ternyata memberikan peringkat pilihan kriminal berupa narkoba dan asusila. Dengan alasan ekonomi itu dimungkinkan telah terjadinya pemaksaan terhadap orang tua untuk membiayai anak, yang selanjutnya disalahgunakan untuk kesenangan melalui kejahatan narkoba dan asusila. Adapun responden wanita yang merasa kurangngnya perhatian orang tua mereka memilih pelampiasannya dengan pergaulan bebas yang mengarah ke kejahatan narkoba Dengan demikian, kriminalitas di Sukabumi nyata akibat kurangnya pembinaan, sedangkan untuk daerah yang lebih maju akibat kecemburuan sosial karena ketimpangan ekonomi sehingga menimbulkan dendam. Hanya di Lapas anak Laki-laki  saja yang menjadikan kriminalitas sebagai hobinya walaupun dalam jumlah kecil (10,2%).
Berbuat kriminal karena ajakan teman adalah dorongan utama mereka (37,1%), baru faktor lain, yaitu kemauan sendiri (24,1%), terpaksa (23,3%) dan iseng (14,7%). Jawaban umum ini hampir mirip dengan Lapas anak Laki-laki . Urutan pemicu beragam antar lokasi; untuk Sukabumi terbanyak karena terpaksa (39,5%), lalu ajakan teman (28,9%), kemauan sendiri (18,4%) dan iseng (13,2%), untuk Bandung kemauan sendiri atau terpaksa (masing-masing 30%), iseng (20%), ajakan teman (15%), Lapas anak Laki-laki  karena ajakan teman (49%), kemauan sendiri (26,5%), iseng (16,3%) dan keterpaksaan (8,2%), serta di Lapas wanita karena ajakan teman (55,6%) dan kemauan sendiri atau terpaksa (masing-masing 22,2%). Dari angka-angka ini jelas bahwa khusus pada wanita, kejahatan terjadi lebih disebabkan karena problem yang serius, dan bukan karena iseng. Dari kedua faktor individu tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaku kriminal di kota kecil bisa saling terkait antara profesi keluarga, kemiskinan harta dan pembinaan serta pencurian. Adapun di kota maju kejahatan banyak dilakukan dengan kesadaran atau pengaruh teman.
Secara umum responden mengakui bahwa perhatian keluarga cukup (35,3%), sangat cukup (33,6%), dan sebanyak 25,9% menjawab kurang. Lapas Sukabumi dengan angka berturut-turut 47,4%, 31,6% dan 21,1%. Angka tertinggi untuk Bandung adalah cukup (40%), diikuti kurang (35%) dan sangat cukup (25%). Urutan untuk Lapas Anak Laki-laki  adalah sangat cukup (42,9%), baru cukup atau kurang (masing-masing 28,6%). Ketidakpedulian keluarga terhadap anak diakui oleh responden wanita Lapas Tangerang (55,6%). Hal ini membuktikan bahwa khususnya wanita memandang perlu dan menuntut perhatian lebih banyak dibanding pria, sedangkan anak Laki-laki  menganggap cukupnya perhatian orang tua namun kenakalannya tidak bisa dikendalikan oleh orang tuanya. Sebaliknya dua responden wanita Sukabumi mengaku orang tuanya sangat memperhatikan, mungkin karena keawaman dan kemiskinan mereka, maka anak-anaknya tidak terurus sehingga berbuat kriminal.
Uang saku yang kurang, bukan pencetus utama kriminalitas pada anak (12,9%), karena rata-rata mengaku uang saku mereka sedang sampai cukup (masing-masing 34,5%). Pola ini teramati di semua Rutan/Lapas selain Lapas anak Laki-laki  yang berurut sangat cukup (34,7%), cukup (32,7%), sedang (20,4%) dan kurang (12,2%). Data tersebut menunjukkan bahwa anak tidak terasa terbebani oleh kewajiban mencari biaya hidup, dan bahwa kemiskinan keluarga sebagai pemicu kejahatan anak (contoh Sukabumi) bukan dalam hal kurangnya pemberian uang saku, melainkan lebih disebabkan oleh faktor pendidikan dalam keluarga.
Secara keseluruhan, anak sangat membutuhkan kebersamaan acara keluarga agar tidak mendorong kenakalan yang mengarah ke kriminalitas. Hasil polling keseluruhan menunjukkan pertemuan yang sangat kurang (44,8%) atau sering (33,6%) yang diikuti polanya pada jawaban responden Bandung (55 dan 30%), Lapas Anak Laki-laki  (49 dan 26,5%) dan wanita Tangerang (68,7 dan 22,2%) atau gabungan. Walaupun urutan untuk Lapas Sukabumi sering (47,4%), sangat jarang (28,9%) dan sangat sering (23,7%). Gabungan faktor-faktor di atas makin memperjelas bahwa kebersamaan, keterbukaan dan perhatian dalam keluarga penting peranannya bagi kebahagiaan keluarga.

C.  Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa faktor dominan seorang anak melakukan tindakan kriminal adalah karena kurangnya pembinaan dari lingkungan khususnya orang tua. Selain itu pergaulan dengan teman-teman sebaya juga sangat mempengaruhi tindakan-tindakan mereka. Pada anak wanita faktor pendorong tindakan kriminal yang terjadi adalah lemahnya pertahanan diri mereka dalam menghadapi orang lain, sehingga mereka mudah dipengaruhi oleh pihak lain terutama teman-temannya yang mengajak untuk berbuat kriminal.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah pentingnya bagi setiap orang tua untuk memperhatikan anak-anak mereka, tidak hanya dalam masalah materi namun juga pergaulan tingkah laku dan akhlak mereka. Pendidikan akhlak dan norma keagamaan adalah solusi tepat bagi pencegahan tindakan kriminal di kalangan anak.     

D.      Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, Penerbit Rineka Cipta : Jakarta, 2005.
Al ‘Adawi, Mustafa, Fiqh Pendidikan Anak. Qisthi Press: Jakarta, 2006.
----------------, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara: Jakarta, 1996.   
Al-Hasyimi, Abdul Hamid Muhammad, Ilm an-Nafs At-Takwini, lihat Hanan At-Thiyah Ath-Thuri (Mendidik Anak Perempuan di Masa Remaja), Amzah: Jakarta, 2007.
Arifin, Muhammad, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Keluarga, Bulan Bintang: Jakarta,  1984
Arikunto, Suharsimy, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta: Jakarta, 2002
Ash-Shiddieqi, Hasby, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia: Jakarta, 1980.
Baharits, Adnan Hasan Shalih , Mendidik Anak Laki-laki, Gema Insani: Jakarta, 2007.
Bali, Wahid Abdussalam, Terdakwa Utama Menggugat Televisi, Jakarta; Darul Haq, 2002.
Daradjat, Zakiah,  Ilmu Jiwa Agama,  Bulan Bintang: Jakarta, 1972
Dariyo, Agus, Psikologi Perkembangan Remaja, Ghalia Indonesia : Jakarta, 2004.
George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosial Modern, Kencana: Jakarta, 2007 ed. 6.
Kalangie, Nico S, Kebudayaan dan Kesehatan, Percetakan KBI: Jakarta, 1993
Kartono, Kartini, Pengantar Metodologi Riset dan Sosial. Mandar Maju: Bandung. 1990.
Kementerian Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta : 2008 cet. IV.
Mahayoni, Anak VS Media, Elex Media Komputindo : Jakarta, 2008
Mahfudz, M. Jamaludin, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Pustaka Al-Kautsar : Jakarta, 2001
Moekijat, Kamus Manajemen, CV. Mandar Maju: Bandung, 2000.
Muzaham, Fauzi, Sosiologi Kesehatan, Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta, 1995.
Nasir. A. Salihun, Peranan Pendidikan Agama terhadap Pemecahan Problema Remaja, Kalam Mulia, Jakarta, 2002
Rogers, Bill, Behaviour Recovery, Grasindo : Jakarta, 2004.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Psikologi Remaja, Grafindo Persada : Jakarta, 2007.
Sarwono, Sarlito Wirawan, Sosiologi Kesehatan, Gajah Mada University Press: Yogyakarta, 1993.
Soediono, Optimalisasi Penelitian Tentang Pengembangan Tenaga Kesehatan dalam Rangka Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan, BPPK Departemen Kesehatan RI: Jakarta,1990.
Surbakti, EB, Kenakalan Orang Tua Akibat Kenakalan Remaja, Elex Media Komputindo : Jakarta, 2008.
Thalib, Syamsul Bachri, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis, Empiris Aplikatif, Kencana : Jakarta 2010
Weda, Made Darma, Kriminologi, PT. Raja Grafindo Persada: Surabaya, 1995
Widyanti, Ninik, Perkembangan Kejahatan dan Masalahnya, PT. Pradnya Paramita: Jakarta, 1987.
Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Rosdakarya : Bandung, 2006


0 comments:

Poskan Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...