Dunia Pasti Berputar

on Kamis, 17 Maret 2011
Oleh : Bambang Sahaja


Bukan latah mengikuti trend yang sedang berkembang di masayarakat, tapi hanya sekadar mengingatkan bahwa ternyata dunia ini memang terus berputar. sama halnya dengan hati yang terus berbolak-balik sesuai dengan apa yang kita amalkan. hari ini kita beriman bisa jadi besok iman kita tergerus oleh berbagai kepentingan hingga menipis laksana kulit ari. Hari ini fulan bergelimang dengan kemaksiatan bisa jadi esok ia akan menjadi seorang yang berilmu pengetahuan. 
Ini kisah saya dengan kakak laki-laki saya yang penuh dengan kenangan, kisah ini juga menunjukan bahwa dunia ini memang berputar sebagaimana hati juga berbolak-balik. 
Pada awalnya saya begitu terlena dengan dunia hingga saya jarang sekali melakukan shalat, puasa dan ibadah lainnya. Sementara kakak saya yang bekerja pada seorang ahli agama rajin shalat, berpuasa dan segala bentuk ibdah lainnya. Puncaknya adalah ketika kakak saya datang ke rumah saya dan mengajak jalan-jalan. Hingga masuk waktu shalat kakak saya mengajak saya untuk shalat di sebuah masjid. Perasaan saya waktu itu adalah merasa bahwa shalat di masjid itu ga wajib dan tidak ada maknanya, sehingga ketika kakak mengajak shalat di masjid saya hanya menunggu di depan masjid dan kakak saya sendiri yang shalat. Tidak ada rasa bersalah dalam hati saya. pada kesempatan lainnya saya diajak untuk shalat tarawih pada bulan ramadhan, namun ketika hampir sampai di masjid hati saya merasa tidak nyaman ketika akan masuk ke dalam masjid, hingga akhirnya saya balik lagi dan tidak jadi shalat di masjid. Saya benar-benar merasa tidak bersalah walaupun tidaj shalat dan melakukan ibadah lainnya, biasa aja dan tidak ada beban. inikah kejahilan? 
Selang hanya satu tahun semuanya berubahh, dunia memang berputar dan hatipun ikut berubah. Caha hidayah mulai merekah dan menerangi hati, timbul semangat untuk memahami apa Islam ini. Hingga mengantarkan saya kepada berbagai halaqah dan pengajian yang menambah kekuatan iman. Alhamdulillah akhirnya saya bisa memahami Islam dan terus mencoba memperbaiki diri, shalat alhamdulillah tak pernah telat. Puasa selalu terlaksana, demikian juga ibadah lainnya. 
bagaimana dengan kakak saya? Berubah seraus delapan puluh derajat. Ia yang dulu menyuruh saya untuk shalat berjamaah di masjid kini justru lalai dari mekasanakannya. entah apa yang membuat di aberubah, kesibukan kerja, pola pikirnya atau lingkungan tempat tinggalnya? Yang pasti hidayah itu memang tidak mudah untuk menjaganya butuh perjuangan. Jika dulu saya malu untuk pergi ke masjid, sekarang ini kakak saya susah sekali kalau diajak shalt berjamaah di masjid. Sekali lagi dunia pasti berputar dan itu sudah saya rasakan, hanya saja haruskah kita menunggu dunia ini berputar agar kita dapat merasakan masinya iman? tentu saja tidak karena keimanan bukan datang tanpa diundang, ia butuh perjuangan, pengorbanan dan kesungguhan. Dan perjuagan itu bukan hanya sesaat, tapi berkesinambungan. Kombinasi total antara do'a dan usaha, usaha agar iman selalu terjaga dan do'a agar hati ini senantiasa dalam ketaatan hanya kepadaNya : 
"Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku berada di atas ketaatan kepadaMu" Amin.....

0 comments:

Poskan Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...