Kamis, 31 Maret 2011

Susahnya Bertaubat


Oleh : Abdurrahman MBP


“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat Nasuha (sebenar-benarnya) “ Kalam Alloh ini sudah sering kali kita dengar, dan setiap kita mendengarnya selalu  ada azzam kita untuk kembali bertaubat, namun apa dikata setelah beberapa waktu berlalu ternyata kita terjatuh kembali kepada kesalahan yang serupa, pernah suatu saat seorang pemain judi telah berjanji untuk tidak mau main judi lagi, dan diapun bekerja pada sebuah pabrik, diakhir bulan setelah dia mendapatkan gajian dan melihat dompetnya telah tebal, keinginan penjudi tersebut timbul lagi, hal ini didorong oleh teman-temannya yang dulu seprofesi, apa hendak dikata janji tinggal janji.
 Manusia memang tempat salah dan dosa, namun apakah contoh di atas dapat kita maklumi?, tentu saja tidak. Bisa dipastikan setiap kita pernah mengalami hal seperti diatas walau kadar kemaksiatan tersebut sangat beragam, kita sadar bahwa itu adalah dosa, namun tanpa sadar kita terus menerus mengerjakannya atau bisa jadi kita sulit untuk meninggalkannya, lalu apa yang jadinya jika kita terus menerus melakukan kemaksiatan?, taubat yang selalu di dengung-dengungkan oleh para Da’i hanya sepintas lalu, setelah ceramah selesai kembali kita melakukan kesalahan itu lagi. Taubat adalah sebuah usaha sungguh-sungguh untuk tidak melakukan sebuah kesalahan, kita sudah memahami definisinya lalu bagaimana cara agar taubat kita tidak seperti taubat sambal? pertama kita harus bertekad untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut, kedua ingatlah akan siksa Alloh jika kita melakukan hal tersebut yang ketiga putuskan  semua hubungan yang menyampaikan kepada dosa tersebut, tiga langkah diatas menjadi senjata ampuh bagi kita untuk bertaubat.
Ketergelinciran atau kealpaan adalah sesuatu yang manusiawi, tentunya hal tersebut memang tidak disengaja, seseorang yang dalam perjalanan kemudian dia menunda sholatnya lalu setelah sampai dirumah dia lupa mengerjakan sholat tersebut, bukanlah sesuatu dosa, dosa itu adalah ketika dia sadar dan sengaja untuk melalaikan kewajiban atau melakukan sebuah kemaksiatan, karena itu tidak ada lagi kata-kata susah dalam bertaubat, bertaubatlah,    bertaubatlah, bertaubatlah... jangan ada kata akhir sampai kita menghadap kepada-Nya dalam keadaan terus memperbaharui taubat kita. Wallohua’lam bishowab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Uktub Your Ro'yi Here...